SIFAT DAN PERJUANGAN
KYAI MUCHAMMAD SJAICHAN DAN NYAI RUKIYAH
I. SIFAT DAN PERJUANGAN KYAI MUCHAMMAD SJAICHAN
A. KREATIF DAN INOVATIF DALAM BERIKHTIAR DUNIAWI
A. KREATIF DAN INOVATIF DALAM BERIKHTIAR DUNIAWI
Sebagai orang
tua Kyai Muchammad Sjaichan mengajarkan kreatif
dan inovatif dalam mencari rizki, jangan terpaku dalam satu hal penghasilan,
sumber atau pintu rizki. Sehingga terdapat beberapa kemungkinan untuk mendapat
penghasilan apabila sumber penghasilan utama mengalami masalah. Sebagai contoh,
bapak pernah menceritakan bagaimana anak-anaknya harus kreatif dengan memanfaatkan
kemampuan yang dimilikinya. Pada saat bapak
bekerja di Kantor Kecamatan Purwojati, bapak dikenal sebagai orang yang pintar
dalam menghitung-hitung luas tanah dan mencari batas-batas tanah. Keahlian ini
beliau manfaatkan ketika ada orang yang kesulitan dalam menghitung dan mencari
batas tanah ketika akan terjadi akad jual beli, karena sering terjadi
persinggungan dengan pemilik tanah di sebelahnya. Peran bapak dalam hal ini
tidak hanya sebagai “konsultan” pertanahan tetapi juga sebagai penengah ketika
konflik tanah terjadi. Bapak menceritakan (saat itu saya masih usia sekolah
dasar dan diceritakan kembali saat usia sekolah di madrasah tsanawiyyah) dari
pekerjaannya sebagai “konsultan” itu mendapakan jasa dari kedua belah pihak
yang menjual maupun yang membeli beberapa rupiah saat itu.
Selain itu bapak
juga pernah menceritakan pengalamannya sebagai ‘broker atau perantara” dalam
transaksi jual beli kambing. Saat itu
ada temannya yang tinggal di Dusun Kalisema ingin menjual kambingnya, tapi
dikarenakan tidak bisa berjalan jauh ke pasar maka bapak menawarkan diri untuk
menjualkannya dan menanyakan boleh tidak jika dijual dengan harga lebih
hitung-hitung untuk ongkos, setelah sepakat diperbolehkan baru bapak membawa
kambing tersebut, setelah ditanyakan harga yang diminta bapak membawa kambing
tersebut ke pasar, setelah sampai di pasar bapak menjualnya dengan harga yang
penting ada selisih lebih dari harga dasar yang harus disetorkan ke
temannya.
Kisah pengalaman
kreatifitas mencarti rizki dari bapak ini sesuai dengan pengalamannya di waktu
kecil, remaja maupun dewasa. Misalkan di
waktu masa anak-anak, bapak menceriitakan masa-masa kehidupan yang sulit,
jangankan untuk mendapatkan kesenangan seperti anak-anak pada umumnya, untuk
makan saja harus bekerja keras membantu orang tua apa saja yang dapat
dilakukannya. Suatu kali ada kabar bahwa akan ada pertunjukan Wayang Kulit dari
hajatan pernikahan orang yang mampu di lain desa. Terbayang dalam benak bapak keramaian yang akan
terjadi yang jarang terjadi dan banyak dinanti orang karena sangat butuh
hiburan-hiburan kesenian. Seperti biasanya kabar akan adanya hajatan besar
biasanya satu bulan sebelumnya sudah menjadi perbincangan masyarakat dan sudah
banyak yang berandai-andai untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit dengan
segala keramaiannya orang-orang yang jualan beraneka macam makanan dan mainan.
Bapak tahu diri
untuk dapat menikmati hiburan itu tidak mungkin mengandalkan orangtuanya untuk
minta uang jajan sebagai bekal menonton pertunjukan karena pagelaran wayang
kulit sebagaimana biasanya dilaksanakan semalam suntuk hingga subuh hari. Mendengar bahwa satu bulan kedepan akan ada
hiburan besar, bapak bekerja ekstra keras, tugas sehari-hari membantu orang tua
mencari kayu bakar, ditambah dua kali lipat, setelah jatah kayu bakar untuk
keluarga terpenuhi bapak mencari lagi untuk dijual. Meskipun murah sekali
harganya, “sekethip-dua kethip”
kata bapak menyampaikan. Pekerjaan
tambahan mencari kayu bakar itu berhari-hari dikerjakan tanpa mengenal lelah
bahkan dengan suka gembira karena terbayang akan dapat menikmati hiburan
semalam suntuk dengan bekal jajan yang cukup, setiap hari bapak menghitung
hasil jualan kayu bakar dan menabungnya di tabungan bambu seperti kebiasaan
orang saat itu pada umumnya. Tidak hanya kayu bakar, mencari rumput juga
dilakukan untuk menambah “penghasilan” uang jajan. Kerja keras ini bahkan masih dilakukan sampai
satu hari menjelang pertunjukan wayang digelar.
Hari
yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, setelah mandi di sore hari di carinya baju
yang terbaik yang dimilikinya saat itu, yaitu baju bekas dari orang tuanya yang
tentu saja kelonggaran, baju ini terdapat dua saku di kanan dan kiri dadanya
lengkap dengan penutup berwarna putih kusam.
Satu lagi pelajaran dapat saya ambil dari cerita bapak ini adalah, pada
saat mau berangkat bapak berfikir, ini uang yang cukup lumayan banyak (kalau
bapak cerita jumlahnya tidak akan habis untuk makan semalaman) harus hati-hati membawanya, bapak berfikir keras bagaimana
biar aman selama membawa uang ini. Tiba-tiba terlintas ide kreatif, uang tidak
dimasukan ke kantong celana atau bajunya, tetapi bapak membuat lubang di
tengah-tengah bajunya di tempat jalur kancing bajunya, sehingga uang logam itu
dapat dimasukannya satu persatu.
Sesampai di tempat pertunjukan bapak langsung mencari jajanan ondol
kesukaannya. Sambil menikmati makanan ondol yang masih hangat satu persatu,
bapak mencari posisi duduk yang nyaman di belakang “kelir” wayang kulit karena
pertunjukan wayang akan segera dimulai.
Tidak terasa kantuk menyerang dan lelaplah dalam tidur malam itu sebelum
pertunjukan wayang kulit dimulai.
Pagi
harinya terbangun kaget karena ada yang menggoyang-goyang tubuhnya sambil
berkata keras, “ Hoi!..Bangun-bangun sudah siang, sudah bubar, bangun!. Tidak hanya kaget karena diteriakin untuk
bangun tetapi juga terlewatlah sudah untuk menyaksikan pertujukan wayang yang
sudah ditunggu-tunggu selama ini. Tidak hanya itu saja, yang lebih mengagetkan
lagi, ternyata uang yang dikumpulkan dengan susah payah dan disimpan dengan
rapi ternyata juga sudah lenyap tidak ada lagi. Rupanya kelelahan fisik
mengumpulkan uang jajan membuatnya tidak tahan berjaga dan menjaga uangnya
meskipun sudah berikhtiar dengan hati-hati. Kata bapak mungkin kesalahannya,
pada saat jajan ondol, saat mengambil uang ada yang memperhatikan, harusnya
uang jangan dimasukan semua di tempat rahasia, tetapi sebagian yang siap untuk
dipakai di pisahkan di kantong saja.
Pada
masa remaja bapak juga mengisahkan pernah menjadi pedagang keliling, jual baju,
perlengkapan dapur, bahan makanan dan apa saja yang dapat dijual dengan cara
dipikul berjalan kesana kemari menyusuri berbagai dusun dan desa untuk membantu
orang tuanya, yang terkadang menginap dimana saja berhenti saat hari mulai
petang, istirahat dan bermalam di situ dan melanjutkan perjalanan pada esok
harinya. Pekerjaan ini dilakukan karena sedang sulit untuk mendapat makan
karena zaman perang dan pekerjaan ini dilakukan sampai sesudah menikah tetap
berjualan. Perjalanan menjadi pedagang
keliling ini sampai ke lereng Gunung Selamet. Adapun desa-desa yang pernah
menjadi daerah “operasi” dagangnya antara lain Desa Karang Sari, Ragung,
Sambirata, Karang Kobar, Gunung Lurah, Kejubung, Baseh, Damaraja, Karang
Kepundung, Dukuh Dai, Panembahan, Rancamaya, Karang Nangka, Pliken, Ajibarang,
Cilongok, Pasir, Karang Lewas, Jatisaba dan masih banyak lagi. Hal ini dilakukan karena bapak harus
menghidupi 3 (tiga) orang yaitu ibunya, dan 2 (dua) orang kakaknya. Bahkan
kakak kandung perempun bapak, Uwak (Bibi) Diem pernah bercerita, bahwa saat
remaja bapak pernah mengikuti perlombaan macopatan atau menyanyi jawa dan
menjadi juara satu sehingga dinaikan ke panggung yang tinggi dan mendapatkan
hadiah. Keberanian tampil dengan keyakinan akan kemampuan dirinya merupakan
pelajaran buat anak-anaknya, bahwa potensi apapun yang dimiliki sebisa mungkin
dapat dieksplore untuk minimal sebagai wadah eksistensi diri agar banyak dan
mudah dikenal atau mengenal relasi-relasi bisnis dan muamalah lainnya.
Kondisi
ekonomi negara saat itu masih sulit sehingga, kegigihan dan kreatifitas
mendapatkan lebih dari yang diinginkan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
terus dilakukan bapak, juga ketika sudah
menjadi seorang pemuda dewasa. Ada
kebiasaan masyarakat yang diamati oleh bapak pada usia sebagai pemuda saat itu,
bahwa kebiasaan masyarakat itu bisa dijadikan peluang, tidak hanya untuk
memenuhi kebutuhan hidup dasar tetapi sekaligus untuk menunjukan eksistensi
diri. Bapak mengisahkan, boleh jadi awalnya
niatnya salah, tetapi itu yang urgen saat itu, agar bisa makan.
Kebiasaan
masyarakat setiap akan melakukan aktivitas atau hajat yang besar dilakukan
terlebih dahulu melakukan kegiatan selamatan, kegiatan berdo’a bersama yang
dipimpin oleh seorang kyai dan disudahi dengan makan dan disertai memberikan
“berkat”(oleh-oleh/bawaan) buat yang ikut selamatan. Dari kegiatan ini bapak
mengamati, yang selalu mendapatkan banyak bagian makanan adalah kyai-nya atau yang
baca do’a. Maka sejak saat itu bapak
jika ada acara selamatan duduknya hampir selalu disamping kyainya, bukan untuk
makanannya, karena sadar itu bukan jatahnya, tetapi secara diam-diam
didengarnya baik-baik doa yang dibacakan kyai dan dihafalkannya. Semakin sering
ada kegiatan selamatan maka semakin memperkuat hafalan do’anya, sehingga bapak
saat itu sudah sampai hafal betul semua do’a yang pernah dibaca kyainya.
Berjalannya
waktu, sang kyai ini semakin renta dan payah fisiknya, sehingga suatu waktu,
pada saat ada acara selamatan, sang kyai merasa lelah dan capai untuk membaca
do’a. Ternyata selama ini kyai ini memperhatikan apa yang dilakukan bapak,
bahwa secara diam-diam menghafal bacaan-bacaan do’a yang dilantunkannya selama
ini. Maka kyainya bilang, “Sun
(panggilan kecil bapak), saya capek, kamu aja yang baca doanya, silahkan”. Antara
kaget dan senang, kaget karena diberi tugas yang tiba-tiba tanpa ada
pemberitahuan dan senang bukan kepalang, saat yang ditunggu-tunggu selama ini
ada di depan mata, terbayang dalam benaknya nanti dapat berkat banyak.
Sementara hadirin
masih belum hilang rasa kaget dan herannya, bapak sudah memulai bacaan doanya.
Bapak menceritakan saat itu dibacanya do’a yang sudah dihafal dan disimpan
begitu lama dengan lantang dan dibaca sepanjang-panjangnya yang bapak hafal,
karena inilah saatnya membuktikan bahwa saya bisa. Dan dari sinilah dimulai
titik balik terangkatnya nama dan derajat keluarga, karena semakin dikenal
sebagai orang bisa baca doa yang direkomendasikan oleh kyai saat itu.
Berjalannya waktu bapak harus banyak belajar agama dan merubah niat, karena
semakin lama tidak hanya untuk baca do’a saja tetapi diharuskan memberikan
wejangan-wejangan maupun nasehat-nasehat setiap kali ada kesempatan acara atau
hajat di masyarakat.
Dari kisah bapak di atas menjadi pelajaran
yang sangat berharga, bahwa bapak mengajarkan orang kalau ingin hidup harus
dinamis, selalu bergerak mencari peluang-peluang meskipun terdapat kegagalan
atau kesialan di sana-sini, yang penting selalu kreatif dalam berfikir dan
bertindak agar peluang-peluang tetap terbuka.
Ada beberapa pesan yang pernah disampaikan pada saat saya mau berangkat
merantau ke jakarta pada bulan januari
tahun 1992 adalah yang pertama, bahwa dimanapun bumi dipijak langit
harus dijunjung, hal ini harus dilakukan karena jakarta kota besar yang penuh
dengan banyak orang dari berbagai daerah sehingga jangan sampai salah sikap
yang akan dapat berakibat buruk dalam bermasyarakat. Yang kedua, bekerja apa
saja yang penting halal dan jangan takut mencoba, bahkan untuk yang satu ini
mas Zubaer menambahkan, di jakarta itu banyak kantor atau gedung-gedung yang
besar dan megah, kalau tertarik dengan salah satu tempat itu, masuk saja ke
dalam untuk melamar di situ, dan diiyakan oleh bapak untuk tidak minder dan
jangan takut. Dan yang ketiga adalah meskipun memiliki kelebihan, baik ilmu
maupun kanuragan jangan sampai ditonjol-tonjolkan, karena banyak orang yang
jauh lebih tinggi ilmunya, jadilah orang yang rendah hati dan mengalah untuk
mencari menang, yang penting selamat.
Itulah
beberapa pelajaran tentang hidup kreatif, kerja keras dan pantang menyerah
dalam mencari penghidupan. Bapak
mengajarkan ikhtiar yang maksimal kepada anak-anaknya, jangan malas dan putus
asa ketika menghadapi kesulitan hidup dan tentunya diiringi dengan do’a yang
kuat pula dengan memasrahkan hasilnya kepada Alloh swt.
B.
TEKUN DALAM BELAJAR
Selama hidupnya bapak soenarko terkenal tekun dalam belajar dan
menuntut ilmu. Dimanapun ada orang yang diangggap dapat dijadikan sebagai guru
maka akan diusahakan untuk dapat mengunjungi dan berguru kepadanya. Ada kebiasaan baik bapak ketika mendapatkan
ilmu yang baik yaitu dengan mencatatnya secara rapi, dan memang tulisan bapak dikenal rapi baik
tulisan tangan biasa, tulisan dengan huruf hanacaraka maupun tulisan dengan
arab pegon. Untuk ini saya memiliki tulisan tangan bapak yang mencatat urutan
pelajaran atau materi dari kajian dari tarekat Naqsyabandiyah Qodiriyyah sebagai
kenang-kenangan dan beberapa tulisan jawa atau hanacaraka.
Di dalam hal menuntut ilmu, bapak merupakan type orang yang sangat
hormat dan patuh terhadap guru. Kegemarannya menuntut ilmu menjadikannya bapak
sering bepergian jauh hanya untuk mencari seorang yang dianggapnya memiliki
ilmu yang bermanfaat, sehingga dari
kegiatan ini tidak hanya semakin menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tetapi
juga semakin banyak kawan dan pertemanan.
Bapak sanggup menunggu lama untuk bertemu kyai jika ternyata kyainya
belum siap bertemu atau belum ada di tempat dan yang tidak pernah terlupakan
adalah bapak selalu membawa oleh-oleh untuk orang-orang yang dianggap guru atau
dituakan sebagai hadiah dan tanda takzim kepadanya. Begitu juga ketika mendapat kunjungan
orang-orang yang dianggapnya memiliki ilmu lebih maka akan diperlakukan dan
dilayani sebaik mungkin, meskipun sedang kekurangan agar nyaman dan senang
selama menjadi tamu di rumahnya.
Bapak menceritakan dari gurunya bahwa tarekat Naqsyabandiyah Qodiriyyah
yang dipelajari merupakan warisan dari Rasulullah saw yang diturunkan kepada
Sahabat Nabi Abu Bakar Sidiq r.a dan Sahabat sekaligus menantunya Sayyidina Ali
bin Abi Thalib r.a dan terus turun kepada para waliyulloh sehingga sampai kepada Syeikh Abdul qodir
Jaelani rah. Dan terus kepada para syeikh, para mursyid, para ulama dan para
kyai sehingga sampai kepada Kyai Haji Abdullah yang bertempat di Laren, dan
terus diturunkan kepada Kyai Mas Muchammad Mukmin di Beji Purwokerto dan turun
kepada putranya Kyai Mas Chasanredja Jatilawang yang menjadi penghulu di
Lumbir.
Kyai Mas Muchammad Mukmin juga menurunkan kepada muridnya Kyai Sanirpan
Tunjung dan Kyai Sanirpan Tunjung ini yang mberkahi atau membaiat Kyai
Muchammad Sjaichan alias bapak Soenarko Karang Duren Purwojati pada tahun 1961
M dan sudah mendapat ijazah untuk menjadi mursyid Tarekat Nasyabandiyah
Qodiriyah di wilayahnya.
Ada kata-kata dari uraian kajian
tarekat yang kadang menjadi renungan ;
“ Nyataning Sahadat Iku Purbaning urip”
“ Nyataning Sarengat Iku Panarimaning urip”
“ Nyataning Ma’rifat Iku Sampurnaning Urip”
C.
SEJARAH SEBAGI SUMBER INSPIRASI
Salah satu kebiasan baik bapak adalah senang bercerita baik tentang
sejarah, hikayat, dongeng maupun kisah para walisongo atau kisah para kyai dan
guru-gurunya. Dari cerita itulah bapak
menyelipkan pesan-pesan moral khusus, pesan-pesan cara bersikap dan bertindak
serta berprinsip ketika menghadapi masalah-masalah kehidupan.
Sudah banyak sekali kisah dan cerita yang pernah disampaikan sejak saya
masih kecil dan terkadang diulang kembali pada saat lain kisah-kisah
tersebut. Saya baru sadar kebiasaan
bapak ini ternyata tidak hanya untuk menghibur anak-anaknya dengan bercerita, tetapi
secara tidak langsung juga anak-anaknya diajarkan belajar sejarah, belajar
mengambil hikmah dari setiap cerita, belajar “membaca” situasi zaman pada saat
sekarang dan yang tidak kalah pentingnya adalah bapak mengajarkan kita menggali
kembali informasi yang ada dalam cerita, apakah ceritanya betul atau tidak,
karena disetiap akhir cerita bapak selalu bilang, saya ngga tahu ini cerita
benar atau tidak, mungkin kalau ada yang pernah ketemu tokoh-tokoh dalam cerita
baik langsung atau tidak langsung (keturunannya kalau ada) atau orang yang
tinggal di tempat daerah atau lokasi terjadinya kisah tersebut dan yang mungkin
menemukan bukti-bukti peninggalan terkait cerita tersebut, maka akan
membuktikan benar tidaknya cerita. Tetapi yang terpenting adalah bahwa semua
cerita, kisah ataupun dongeng adalah menimbulkan inspirasi dalam kehidupan buat
anak-anaknya.
Sejak tahun 2015 saya sendiri mencoba menggali kembali semua cerita,
kisah atau bahkan yang dianggap dongeng untuk mencari hubungan rangkaian cerita
dengan cerita sejarah yang sudah banyak dikenal secara umum sekaligus mencari
bukti-bukti pendukung cerita. Sampai
saat ini sudah beberapa yang ditemukan lokasi maupun bukti pendukungnya.
Diantaranya adalah :
1.
Kisah Walisongo
Bapak sering menceritakan kisah perjalanan dakwah para
walisongo, diantaranya adalah cerita tentang sunan kudus, sunan kalijaga dan
Raden Patah serta lainnya.
Konon Sunan Kudus memiliki
seorang murid yang berbeda dengan lainnya yang bernama Hasanuddin, selain sangat
berbakat baik dari pengetahuannya tentang kenegaraan, kemasyarakatan maupun
kanuragan, murid yang satu ini juga memiliki sikap yang tenang dan bijaksana,
meskipun sedikit tersirat ada ketegangan syarat dimukanya seperti sedang
menahan kondisi pikiran dan batin tertentu.
Tidak akan terlihat oleh orang lain kecuali oleh gurunya, Sunan Kudus. Sedikit banyak mewarisi sifat gurunya, sedikit
keras dalam bertindak dan berprinsip yang memang sebenarnya sudah bawaan
sebelumnya sejak kecil. Murid istimewa
ini kelak akan menjadi seorang sultan di sebuah kerajaan di wilayah Jawa Barat.
Raden Patah, Sultan pertama di tanah jawa dari kasultanan
Demak Bintoro waktu masa mudanya ternyata sewaktu menjelajah pulau jawa sampai
juga di daerah jawa barat salah satunya di daerah sebelah utara Gunung Gede,
terdapat telaga yang sangat luas sekali seperti lautan karena hampir tidak
terlihat batas pinggirnya. Air di telaga
ini sangat melimpah dan jernih, berbagai macam ikan dan tumbuhan air begitu
jelas terlihat karena jernih dan bening air telaga ini. Raden Patah setelah
mengamati tempat ini ternyata terdapat 7 (tujuh) mata air yang sangat besar dan
deras sekali air yang keluar dan sangat dalam air telaga ini lebih kurang 50
meter kedasar telaga. Seperti mendapatkan ilham dan firasat yang menuntun Raden
Ratah untuk semakin masuk ke dalam air. Semakin ke dalam banyak sekali terlihat
berbagai macam ikan yang ukurannya sangat besar-besar. Sesampainya di dasar
telaga Raden patah melihat ada lobang yang besar, aneh, seperti sumur di dalam
dasar telaga. Semakin penasaran, Raden
Patah memasuki sumur di dasar telaga tersebut.
Inilah salah satu kelebihan dari kesaktian Raden patah, mampu menahan
nafas yang sanggat lama, bahkan seperti dapat bernafas dalam air.
Setelah memasuki lubang sumur dasar telaga, ternyata lubang
itu berbelok kembali ke arah atas seperti membentuk huruh “U”, diikutinya
lubang itu naik ke atas dan sampailah raden Patah pada permukaan air sumur di
ujung satunya, terbelalak dan terkejut Raden Patah, ternyata ujung sumur
tersebut berada di dalam aula gua yang sangat luas, lebih dari 300 meter
persegi. Raden Patah keluar naik ke
lantai aula gua dan melihat sekeliling, suasana di dalam gua hening dan sejuk.
Di ujung sebelah selatan terdapat singgasana dari batu pualam dengan berhias
permata yang terlihat sudah lama sekali tidak terpakai. Semakin ke dalam masuk
semakin panjang lorong gua yang sangat luas tersebut, diikutinya lorong gua
tersebut dan ternyata sangat panjang sampai kurang lebih 3 (tiga kilometer)
panjang gua tersebut dan ujung gua tersebut juga ternyata tidak jauh berbeda
dengan bagian muka, berada di dalam dasar telaga juga tetapi jauh diujung
telaga sebelah timur. Gua dalam telaga itu memiliki beberapa bagian seperti
kamar dan beberapa bagian ruang, bahkan ada kolam renang tersendiri.
Kelak Goa inilah menjadi keraton dari Kerajaan Bawah Air
dan yang menjadi raja adalah Sultan Agung Hasanuddin yang merupakan murid dari
Sunan Kudus. Menjadi sultan karena diangkat langsung oleh Penguasa tertinggi
Kesultanan Demak Raden patah dan menjadi kerajaan bawahan kesultanan
Demak. Sultan Agung Hasanuddin ini
sebenarnya masih keturunan dari Raja Pakuan Pajajaran Prabu Siliwangi dari anak
perempuannya Nyi Rarasantang. Menjadi
seorang sultan di sebuah kerajaan yang sangat berbeda diperlukan pengawal dan
pasukan yang memiliki kelebihan tersendiri.
Untuk mendampingi Sultan Agung Hasanuddin diutuslah murid Sunan Kalijaga
yang memiliki kelebihan tersendiri dengan dunia air, dialah yang menjadi
panglima dari pasukan Kerajaan Bawah Air.
Panglima utamanya ada empat orang dan mereka berempatlah pasukan
kerajaan itu yang dipimpin murid sunan Kalijaga. Sedangkan rakyatnya sebanyak 25 (dua puluh
lima) orang yang dibawa langsung dari Kesultanan Demak yang merupaka orang-orang pilihan dan
semuannya dibekali oleh para guru-gurunya para walisongo dengan berbagai
kelebihan salah satunya mampu bernafas dalam air.
Saat ini telaga tempat Kerajaan Bawah Air ini sudah
menyusut banyak menjadi daratan dan banyak rumah dan gedung berdiri di atasnya.
Saya meneliti tempat ini dari pencarian tempat yang memiliki 7 (tujuh) mata air
tahun 2015, semakin banyak bangunan dan perumahan yang dibangun di atasnya dan
banyak terjadi pengurukan telaga yang saat ini sudah menjadi semacam danau
kecil. Tetapi kedua pintu masuk masih
tidak terlihat karena berada di bawah air meskipun airnya sudah sangat menyusut
dan sudah terpisah jauh. Hutan di
sekitar yang tidak jauh dari pintu masuk sejak zaman belanda dijadikan
perkebunan karet dan hutan pinus, saat ini sudah dijadikan beberapa komplek
perumahan sekolahan dan tempat usaha serta kantor pemerintahan. Saya tidak bisa menyebutkan tepatnya tempat
ini karena takut ada penjarahan harta benda yang sangat berharga yang jumlahnya
sangat banyak yang berada di dalam Keraton Kerajaan bawah Air ini, baik harta
benda berupa emas permata, alat musik gamelan jawa maupun perhiasan-perhiasan
ruangan, tetapi yang pasti dulu tempat ini banyak sekali menghasilkan buah
kemang, manggis dan rambutan, dan tidak jauh dari rel kereta api. Ada keunikan
ketika saya berenang di air yang ada di bagian pintu depan, tidak tahu mengapa
susah sekali badan saya yang beratnya 185 kg ini untuk tenggelam, ketika mencoba menyelam selalu badan saya terangkat
keluar. Meskipun begitu banyak juga yang
sudah mati tenggelam . Berbeda dengan bagian air di sekitar pintu belakang gua,
baru menginjak air dipinggiran saja bawaannya mau langsung tenggelam, padahal
dipinggiran saja airnya sangat dalam dan menurut cerita sering tampak ular
besar dan buaya di tempat ini. Dan saat ini mata air yanng tadinya ada 7
(tujuh) tempat sekarang tinggal 3 (tiga) tempat mata air yang masih lancar
mengeluarkan air jernih.
2.
Kisah Ho No Co Ro Ko
Bapak sering menceritakan latar belakang dari munculnya
aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka Kisah tentang Raden Aji Saka dengan Prabu Dewata Cengkar, seorang raja yang suka memakan
manusia untuk tumbal kesaktiannya dari Kerajaan Medangkamulan. Dari cerita bapak juga disampaikan tentang
bagaimana kondisi keratonnya yang sangat besar karena kerajaan ini sebelumnya
memang kerajaan yang sangat makmur ketika raja yang memerintah adil dan
bijaksana. Kata bapak menurut cerita ciri
istananya ada pelataran yang luas dan pintu gerbangnya yang besar. Karena dikisahkan pada saat Raden Aji Saka
akan memasuki istana beserta dua carakanya, Raden Aji Saka meminta kepada salah
satu pembantunya atau caraka yang setia selama ini menemani kemanapun pergi
untuk tidak ikut masuk ke dalam, akan
tetapi untuk menunggu diluar gerbang istana kerajaan untuk menjaga senjata
pusaka pribadi Raden Aji Saka yang berupa keris yang memiliki kekuatan besar,
karena dilarang membawa senajat ketika akan menemui raja. Takut diambil oleh para punggawa kerajaan
saat pemeriksaan maka lebih baik ditinggal diluar istana. Caraka ini bukan caraka sembarangan, kedua
sosok caraka ini lebih mirip kepada seperti resi, meskipun berusia lanjut akan
tetapi keduanya memiliki fisik yang tidak kalah bugar dan kuat sebagaimana
orang-orang yang masih muda usianya.
Selain keduanya sama-sama memiliki kesaktian yang tinggi dengan ilmu
beladirinya yang mumpuni, Keduanya juga orang yang sangat amanah dalam
menjalankan perintah tuannya Raden Aji Saka. Sebagaimana kisah ini telah kita
dengar, ketika caraka yang ditugasi menjaga keris pusaka untuk tidak
menyerahkan kepada siapapun, maka ketika caraka yang satunya disuruh mengambil
oleh Raden Aji Saka tidak diberikan sehingga terjadi selisih pendapat yang
mengakibatkan perkelahian yang berujung kedua caraka ini tewas karena bertikai
menjalankan amanah. Yang satu diperintah
untuk mengambil yang satu lagi diperintah untuk menjaga. Dikisahkan memang keris pusaka ini sangat
menarik buat siapa saja yang memegangnya.
Begitu dipegang keris ini, maka akan terasa langsung energi yang ada di
dalam keris ini. Keris ini memiliki dua
kekuatan besar yang berasal dari energi alam para naga dan para harimau jawa,
sehingga tanpa dipergunakanpun pemegangnya dapat mengeluarkan tenaga dalam yang
besar dan menyerupai salah satu dari kedua binatang tersebut. Selain bisa bergerak cepat, meloncat tinggi
dan jauh, melayang terbang, juga dapat mengeluarkan api dari pukulan tangannya.
Caraka yang menjaga keris pusaka ini menunggu di luar
istana di sebelah depan arah utara sejauh 1000 meter ke arah timur laut, dimana
di tempat ini terdapat sumber air yang sangat besar dan jernih airnya yang
muncul diantara pepohonan di atas bukit. Dan di tempat inilah tempat kedua
caraka bertarung hingga menemui ajalnya.
Adapun kerisnya masih tertinggal di tempat tersebut hingga saat sekarang
dan ditempat tersebut ada yang sering melihat seekor ular putih yang sangat
besar atau naga putih mendiami tempat tersebut.
Setelah diamati, lokasi keraton Kerajaan Medangkamulan ini
berada di daerah yang cukup strategis
yang masuk daerah Kabupaten Bogor Jawa Barat, disebelah timur terdapat bukit
yang cukup tinggi memanjang laksana benteng alami, di bawah bukit terbentang
sungai yang sangat dalam dan luas dengan aliran airnya yang sangat deras. Disebelah selatan dan utara terbentang
perkebunan berbagai macam buah-buahan dan pertanian. Disebelah barat daerah yang berbukit,
pegunungan dan lembah dengan hutannya yang lebat penuh dengan berbagai macam
binatang liar.
Keraton Medang kamulan ini sangat besar dan sangat megah, dikelilingi
dengan tembok yang tebal dan tiinggi dan berbentuk seperti segi limas. Temboknya
dibuat bermotif lingkaran berkotak dengan bolatan di tengah. Sewaktu saya mengukur luas kerton medangkamulan ini
dari arah pingggir sebelah timur, lebar keraton kurang lebih 500 meter dan semakin melebar ke arah
belakang atau ke arah selatan. Setiap
jarak 10 – 15 meter terdapat tiang menara, yang berfungsi sebagai penguat
tembok sekaligus sebagai tempat prajurit yang berjaga memantau keadaan sekitar
melalui tiang semacam menara kecil. Bagian gapura gerbang depan terdapat menara
yang cukup tinggi di kanan kirinya dengan jarak kurang lebih 100 meter. Sehingga jika dilihat dari depan semakin
kelihatan megah dan berwibawa karena prajurit penjaga tidak hanya ada di tiap
menara, tetapi di bagian depan samping kanan kiri gerbang juga terdapat pos
jaga yang dibuat menyatu dengan bangunan tembok gapura, yang digunakan untuk
beberapa prajurit berjaga. Dua menara yang di depan yang terbesar tidak hanya
untuk tempat pengawasan melihat area yang jauh, tetapi juga digunakan sebagai
tempat lonceng untuk membuat isyarat ketika dalam keadaaan bahaya, maupun untuk
memanggil rakyatnya ketika ada titah raja yang penting. Pada zaman setelah Kerajaan dikuasai oleh
Raden Aji Saka, fungsi lonceng ditambah sekaligus sebagai pembertahuan kalau
hari sudah fajar, sudah siang tengah hari, ketika setelah matahari tenggelam
dan ketika hari masuk tengah malam. Dua
menara ini bagian atas dibuat semacam kubah dimana dibawahnya terdapat lonceng
dan disangga dengan empat tiang berbentuk bulat ukuran kecil.
Masuk ke dalam bagian gerbang akan terlihat bangunan yang
sangat indah, rapih dan teratur dari segi fungsinya. Lurus searah gerbang setelah lapangan kurang
lebih 300 meter ke dalam terdapat dua buah bangunan yang sangat panjang
sehingga kesannya semacam lorong ke arah bangunan utama. Dua bangunan yang
panjang ini berdampingan, satu yang sebelah timur untuk arah masuk dan satunya
lagi untuk keluar dari bangunan utama ke arah lapangan dan gerbang. Bentuk bangunan masing-masing mengerucut ke
atas seperti bentuk pengimaman pada masjid atau mushala. Sepanjang lorong terdapat beberapa ruangan
kecil untuk menempatkan prajurit maupun untuk penghuni istana atau tamu
kerajaan yang sedang berbincang-bincang sesaat akan masuk atau setelah keluar
dari ruang utama atau untuk sekedar bercengkerama antara tamu kerajaan yang
sama-sama sedang berada di istana kerajaan. Sepanjang lorong dipenuhi dengan
hiasan-hiasan yang unik yang berwarna warni dan berharga. Disebelah samping
bangunan panjang tersebut kanan dan kirinya terdapat bangunan yang luas
berbentuk persegi panjang yang berfungsi sebagian untuk barak prajurit yang
berjaga lengkap dengan gudang senjatanya selain gudang senjata yang ada di
bagian dalam bangunan utama istana, sebagian untuk tamu-tamu kerajaan yang
harus menginap karena datang pada malam hari atau pada saat menunggu sang raja
yang belum ada karena sedang keluar istana.
Masuk lebih dalam lagi dari bangunan lorong panjang
tersebut, sampailah pada bangunan utama yang berupa aula yang sangat luas
dengan bentuk bersegi lima. Bangunan
utama ini dikelilingi oleh bangunan bertingkat yang berisi kamar-kamar dan
ruangan-ruangan yang sangat banyak yang diperuntukan bagi penghuni istana dari
kalangan pejabat atau semacam kantor masing-masing pejabat dan sekaligus
keluarganya. Bangunan ini berarsitektur
seperti bangunan eropa dengan ornamen tiang dan berbentuk melengkung setiap
blok kamarnya.
Ke arah bagian tengahnya yang merupakan bangunan aula dan
beberapa kamar untuk raja dan permaisuri, singgasana tempat duduk raja dan
hamparan permadani untuk para punggawa kerajaan serta beberapa ruangan lagi
disekitarnya. Pemisah antara bangunan
aula dengan bangunan disekelilingnya adalah taman bunga dan tanaman hias serta
kolam ikan yang sangat indah mengelilingi bangunan aula, sehingga suasan di
dalam aula sangat asri, sejuk dan tenang ketika terdapat pertemuan-pertemuan
kerajaan. Bangunan aula ini juga terdiri
dari tiang-tiang bulat yang tinggi dengan bentuk melengkung bagian
atasnya. Atap bangunan ini terdiri dari
beberapa kubah yang berbeda ukuran dan warnanya. Kubah yang terbesar yang berada di bagian
tengah dengan warna emas karena memang terbuat dari emas. Sedang masing-masing
pojok segi lima terdapat kubah kecil berwarna hijau dan orange berbahan batu
pualam dengan disangga oleh menara yang cukup tinggi. Menara kubah yang tertinggi yang berada di
sebelah barat bagian selatan atau arah belakang sebelah barat. Arsitektur bangunan ini mirip bangunan dari
daerah persia, india dan sejenisnya yang menggunakan kubah semacam kubah
masjid. Sehingga menariknya bangunan besar berkubah ini dikelilingi bangunan
bertingkat seperti model bangunan eropa dan yunani.
Lebih kedalam lagi setelah bangunan aula yang besar,
terdapat bangunan yang tidak kalah megahnya dan berjumlah ada tiga bangunan
yang besar dan panjang. Satu lurus kebelakang arah selatan, satu lurus
menyerong arah kiri dan satunya lagi menyerong arah kanan, dan bentuk ketiga
bangunan ini sama besar dan sama panjangnya.
Bangunan yang lurus ke arah belakang diperuntukan bagi raja dan
permaisuri beserta anak-anaknya. Sedangkan bangunan yang menyerong ke arah
kanan untuk para selir-selirnya dan keluarganya dan dayang-dayang istana.
Sedangkan bangunan satu lagi yang menyerong ke arah kiri diperuntukan untuk
berbagai macam keperluan kerajaan, dari mulai gudang perbekalan bahan pokok
makanan, kain dan pakaian, perlengkapan raja dan permaisuri, perlengkapan
istana kerajaan, gudang senjata, dapur umum dan dapur khusus keluarga raja
serta tabib istana tempat untuk berobat jika ada yang mengalami sakit.
Adapun gudang harta kerajaan dibagi tiga tempat, yaitu di
bangunan aula, bangunan para selir dan bangunan utama raja dan permaisuri. Secara garis besar istana kerajaan
medangkamulan ini dibagi menjadii tiga bagian yang masing-masing dipisahkan
dengan tembok yang tebal dan tinggi, dimana bagian atasnya tempat mondar-mandir
para prajurit menjaga istana, dengan pagar besi yang berciri khusus di setiap
pinggirnya. Keberadaan gudang harta ini
amat sangat rahasia, hanya punggawa kerjaan terpilih saja yang tahu, kecuali
gudang yang berada di bagian aula.
Gudang harta ini sedikit banyak penghuni istana mengetahu dari mulut ke
mulut secara diam-diam dan memang ini disengaja oleh pihak raja agar orang
mengira hanya disitulah gudang kekayaan kerajaan dan dibuatlah terlihat
penjagaan khusus untuk area ini. Gudang ini memang dipergunakan untuk keperluan
rutin kerajaan. Pembagian gudang harta ini untuk mengantisipasi jika terjadi
kekacauan yang melanda istana, sehingga yang jumlahnya jauh lebih banyak masih
tersimpan rapih di bangunan utama raja.
Saat ini ketiga gudang harta ini masih ada beserta isinya emas permata,
pusaka, batu mulia dan benda berharga lainnya, kecuali yang bagian aula tinggal
sedikit, karena disaat akhir-akhir kerajaan ini runtuh sempat diambil untuk
bekal keluar keluarga kerajaan, sedangkan dua gudang lainnya sebagai cadangan
di masa yang akan datang ketika memungkinkan untuk mendirikan kerajaan kembali.
Disebelah belakang tembok besar pemisah antara lapangan
bagian depan dengan area bagian tengah atau samping aula terdapat istal atau
tempat rumah kuda-kuda kerajaan, baik untuk keperluan perang maupun untuk
tunggangan raja dan keluarganya dan pada bagian masing-masing jarak antara tiga
bangunan terdapat taman bunga untuk keluarga raja. Sedangkan pada sisi sebelah timur bangunan
yang serong ke kiri dipergunakan untuk berbagai macam ternah, baik kambing,
ayam maupun ikan. Terdapat pintu rahasia
istana pada bangunan yang tengah untuk raja yang berupa lorong yang panjang di
bawah tanah menuju arah selatan dan tembus ke sungai yang besar melewati bawah
tembok pembatas istana yang mengelilingi istana kerajaan.
Saat ini bangunan istana kerajaan ini masih ada dan
tertimbun tanah karena diatasnya banyak tumbuh pepohonan dan banyak berdiri
rumah-rumah penduduk, pusat perbelanjaan dan sarana umum lainnya. Kondisi sekarang sangat ramai karena dekat
dengan pusat transportsi umum kereta api.
3.
Kisah Lain
Masih terdapat beberapa cerita yang belum sempat saya
menulisnya seperti kisah Bajul Seto, Pedang Nagapuspa, Ratu Ikan mas dan kisah orang-orang
zaman tokoh pewayangan yang masing-masing masih ada peninggalannya.
II.
SIFAT DAN PERJUANGAN IBU RUKIYAH
A.
Taat dan patuh dengan orang tua dan suami
Patuh Kepada Orang Tua
Tanggal 29 November 1945 tidak lama
setelah indonesia merdeka Ibu Rukiyah menikah dengan bapak ketika masih berusia
9 tahun lebih dan masih kumpul dengan
orang tuanya dan bapak saat itu berusia 23 tahun. Setelah menikah tetap kumpul dengan orang tua
kurang lebih 2,5 tahun. Dari peristiwa
pernikahan ini saja dapat dimengerti bahwa ibu seorang yang sangat penurut
dengan orangtuanya, disuruh menikah pada usia sangat dini, dimana anak-anak
yang lain sedang senang-senangnya bermain.
Bahkan kata bapak sesaat setelah
menikah pun masih suka bermain dengan teman sebayanya, karena ibu juga dikenal sebagai
anak yang dapat menjaga persahabatan sesama teman sehingga teman-temannya
merasa di “emong” oleh ibu ketika bermain.
Untuk bermain ibu memiliki kreatifitas membuat mainan-mainan sendiri
seperti untuk mainan boneka dibuatnya sendiri dari bahan alami yang ada di
sekitar, begitu pula untuk mainan yang menggunakan tali atau lainnya. Pernikahan dini yang diminta orang tua agar
dapat mengurangi kesusahan hidup saat itu pun dipatuhi dan ditaati dengan
harapan dapat membantu orang tua dalam mengurangi beban hidup dan terdapat
harapan hidup yang lebih baik setelah menikah.
Selain itu juga ibu dikenal sebagai anak
yang sangat rajin membantu orangtuanya atau dibilang paling rajin, tanpa kenal
lelah dan letih ketika banyak pekerjaan orang tua yang memerlukan bantuan, baik
ke sawah, ladang, kebun atau mencari makanan dan kayu bakar serta membantu
pekerjan-pekerjaan rumah lainnya termasuk memasak. Kalau kata ibu, tidak ada berhentinya, selalu
ada yang dikerjakan, bahkan hingga menikah dan memiliki anak.
Patuh
kepada suami
Setelah menikah sifat patuh dan taat
kepada orang tua tidak berubah dan tetap dilakukannya bahkan sifat itu ibu
pakai juga kepada suaminya. Salah satu
kebiasaan ibu, ketika memiliki sedikit kelebihan rizki seperti makanan, maka
akan segera mengirimkannya kepada orang tuanya agar dapat ikut menikmati apa
yang sedang dinikmatinya. Patuh kepada suami ketika suami menginginkan pisah
rumah meskipun masih usia belia harus berpisah dengan orang tuanya dan taat kepada
suami harus dapat menjalani kehidupan yang baru lengkap dengan segala
kekurangannya.
Ibu dikenal orang yang sangat menjaga
wibawa, martabat dan nama baik suami dan keluarga, dengan tidak mudah mengeluh
kepada sembarang orang tentang kesusahan-kesusahan dan kesulitan hidup yang
dialaminya dalam pernikahan. Perlakuan
kepada suami sangat hormat. Ibu menjaga betul suasana perasaan suami meskipun
harus mengorbankan perasaan sendiri, ketika ingin berkeluh kesah tetapi
diilihatnya suami sedang tidak enak suasana hati pikiranya, maka ibu memilihnya
untuk disimpannya sendiri dan cukup mengadu kepada Yang Maha Kuasa. Sebisa mungkin dapat menyiapkan minuman atau
camilan setiap paginya meskipun sedang tidak ada apa-apa di rumah.
Ibu berkisah ketika masa sulit ekonomi di
keluarga terkadang harus menjual hasil bumi atau kebun untuk memenuhi kebutuhan
beras atau bahan dapur lainnya termasuk minyak dan gula karena tidak memiliki
uang untuk membelinya, sementara suami tidak tahu kalau uang belanjanya sudah
habis dan untuk memintanya dirasa tidak mungkin karena sedang masa-masa sulit.
B. Pandai Memasak
Kebiasaan membantu orang tua di dapur
membuat ibu memiliki pengetahuan yang banyak dalam menyiapkan bahan masakan
dengan bahan alakadarnya meskipun belum bisa memasak. Kepandaian memasak ibu dimulai sejak berpisah,
awalnya bapak yang memasak, tetapi ibu dengan cepat belajar untuk dapat memasak.
Berbekal pengetahuannya ketika membantu orangaa tuadalam menyiapkan bahan
masakan, maka ketika memasak kreatifitas ibu berlanjut, ketika ketemu daun
talas, di masak daun talas, ketemu daun suweg ya dimasak daun suweg, apalagi
kalau ada ikan atau ayam dan kemampuan ini semakin terasah ketika hidup mandiri
dengan bapak dengan kebiasaan memasak dengan bahan alakadarnya tanpa mengurangi
rasa kesedapan dan kelezatannya dan tetap dilakukannya demi anak-anaknya agar
dapat tetap makan.
Yang masih sangat terkenang ketika saya
diminta membantu ibu untuk membuat ketan, membuat minyak klentik, membuat kue
lapis dan membuat bothok serta ketika bapak minta dimasakkan makanan
kesukaannya, pecak ikan, rasanya seperti
masih terasa di lidah jika mengingatnya. Apalagi jika mengolah makanan dari
bahan ubi kayu atau singkong, banyak jenis yang dapat dibuatnya. Karena keahlian memasak inilah yang membuat saya
pribadi sebagai anaknya tidak merasa punya keinginan makan masakan yang lain
karena sudah cukup menikmati apa yang di sediakan oleh ibu.
Sebagai seorang ibu rumah tangga, ibu tidak hanya sangat kreatif seperti
berjualan apa saja yang dapat dijual, ibu juga melakukan barter jenis makanan
dengan bahan pokok lainnya seperti hasil kebun seperti kelapa dengan beras,
atau singkong dengan beras atau bahan lauk untuk memenuhi kebutuhan makan
sehari-hari dengan keterbatasan jatah bulanan, ibu juga sangat prihatin dan
mengalah jika makanan yang ada tidak cukup dimakan oleh seluruh anggota
keluarga. Ibu pernah bercerita, beberpa
kali ibu tidak kebagian nasi, yang dilakukannya adalah makan sisa-sisa nasi
yang menempel di bakul tempat nasi dan ini tidak ada yang tahu bahkan bapak
sebagi suaminya sendiri tidak pernah dibeitahu akan hal ini. Dalam kondisi sakit tetap harus ada yang
dapat dimasak, maka yang dilakukannya adalah menjual apa saja yang bisa dijual
atau di barter dengan pergi ke pasar secara diam-diam. Ibu berfikir yang penting anak-anak dan suami
senang dan tenang melewati hari itu.
.
C. Pandai menabung dan suka
memberi
Meskipun rumah tangga sejak menikah banyak
sekali mengalami kesulitan dan banyak membutuhkan biaya hidup termasuk untuk
anak-anaknya, ibu masih sempat dan dapat menyisihkan sebagian rizki yang
diberikan bapak untuk ditabung dan hasilnya dibelikan perhiasan emas atau sepetak
dua petak tanah. Tahun 1954 sudah bisa menabung perhiasan emas 21 gram semenjak
bapak diterima sebagai agen polisi tanggal 01 Juli 1950 dengan gaji Rp.
82,50,-, meskipun langsung habis emas tersebut dipinjam saudara. Tetapi dengan segala kesusahannya dan
banyaknya kebutuhan hidup sampai pensiunnya dapat menabung kembali perhiasan
emas sebanyak 110 gram dan tanah 7 (tujuh) tempat.
Kondisi ekonomi yang sulit dan susah payah
menyisihkan untuk menabung, tidak membuat ibu menjadi orang yang bakhil, kikir,
medit atau sebutan lainnya. Justru di
sisi lain ibu memiliki kebiasaan berbagai dengan saudara dan para
tetangga. Ketika memiliki kelebihan
sedikit makanan atau hasil kebun. Saya
mengalami sendiri bagaimana diminta membantu ibu untuk mengantarkan masakan ke
beberapa tetangga atau orang yang dianggap lebih kurang mampu, apalagi saudara
meskipun jauh tetap diantarkan. Saya
pernah mengantar makanan semangkok-semangkok ke beberapa orang di Karang Duren
Kidul, Ke Kalisema dan beberapa sekitar rumah.
Begitu juga ketika ada hasil kebun yang cukup lumayan, apakah ubi-ubian,
pisang, mangga, nangka, jambu air atau jeruk.
Termasuk Jeruk Bali yang ada di pekarangan rumah, minimal satu rumah
dapat separo /setengah jeruk bali, karena ukuran jeruk bali yang ada besar-besar
berbeda dengan jeruk bali sekarang.
Pelajarannya disini sebisa mungkin kita
anak-anaknya dalam rumah tangga dapat menabung untuk masa-masa yang sulit dan
jangan lupa tetap beramal kebaikan dengan berbagi terhadap sesama apalagi
saudara.
D. Pengayom Keluarga
Sejak kecil ibu
memiliki sifat sebagai pengayom keluarga, manakala dalam keluarga terdapat
masalah-masalah atau terjadi konflik keluarga.
Ibu sedapat mungkin melakukan upaya sebagai penengah dan penyatu serta menjadi
tempat berbagi keluh kesah. Begitu juga
ketika sudah menikah dan memiliki anak-anak.
Sifat pengayom ini ibu lakukan untuk menghindari perpecahan atau konflik
keluarga, baik antara keluarga orang tuanya, keluarga suami maupun keluarga
sendiri. Untuk melakukan ini ibu harus melakukan
komunikasi dua arah antar dua pihak yang sedang ada masalah atau melakukan
komunikasi dengan anak-anaknya ketika mendapatkan banyak masalah. Kebiasaan mendengarkan dan berkomunikasi
inilah yang membuat suasana nyaman kepada siapa saja termasuk kita anak-anaknya. Misi dari sifat dan sikap ibu ini adalah agar
ada ketentraman dalam keluarga dan persaudaraan. Ibu ingin menunjukan kepada anak-anaknya,
hendaknya siapa saja dari anak-anaknya dapat menjaga tali kasih, tepo seliro dan
saling mendukung sesama saudara, karena ini juga yang diminta oleh bapak. Pengorbanan ibu untuk dapat menjaga
kekeluargaan antara lain adalah ketika ibu memberikan pinjaman tabungan
perhiasan emas yang dikumpulkannya dengan susah payah menyisihkan sedikit demi
sedikit rizki yang ada kepada salah satu Pakde-nya dari keluarga orangtuanya
yang sedang membutuhkan uang saat itu, emas seberat 21 gram diberikan sebagai
pinjaman meskipun tidak kembali lagi, padahal saat itu ibu di rumah juga sedang
sangat kekurangan.
E. Sabar dan tabah menghadapi
ujian hidup
Kesabaran dan ketabahan ibu ini luar biasa, orang
tuanya, suaminya bahkan anak-anaknya banyak tidak tahu apa yang sudah dan
sedang terjadi pada ibu. Selama menikah begitu banyak kesulitan hidup sejak
berpisah dengan orang tuanya hidup di gubuk yang sudah reot tidak pernah
dikeluhkan kepada orang tuanya. Sekitar tahun 1964 ibu pernah mengalami
pendarahan karena keguguran usia kandungan 8 (delapan) bulan yang mengakibatkan
pendarahan hebat dan hampir kehilangan nyawa sehingga dirawat di rumah sakit
umum selama 21 (dua puluh) satu hari, meskipun begitu ibu tetap mau mengandung
kembali untuk mendapatkan anak kembali. Puncaknya ketika sekitar tahun 1980 ibu
mengalami sakit tergeletak lumpuh hanya bisa tidur selama 1 (satu) tahun dan
total sakit selama 2 (dua) tahun yang menghabiskan biaya besar saat itu karena
harus berobat kemana-mana.
Mengalami beberapa kali sakit
yang berat tidak membuat ibu menjadi orang yang putus asa, akan tetapi ibu
pasrahkan segalanya kepada Alloh swt yang telah mengatur segalanya. Bahkan dihari-hari sakitnya beberapa bulan
menjelang Alloh panggil kehadirat-Nya, ibu masih memikirkan untuk kesenangan
anak-anaknya beberapa kebutuhan anak-anak yang kecil termasuk saya belum ada,
ibu bela-belain dengan menghemat dan menjual apa saja untuk membeli pakaian
yang saya minta saat itu.
Hampir tidak pernah ibu
memikirkan dirinya, yang ibu pikirkan bagaimana anak-anaknya dan suaminya.
Meskipun sebenarnya juga ingin memiliki baju yang pantas seperti orang-orang,
ingin juga jalan-jalan plesiran melepas penat, tetapi keinginan itu dipendamnya
demi ketenangan keluarga dan anak-anak.
Maka sudah sepantasnyalah kita
anak-anak keturunannya, tidak hanya selalu mengirimkan untaian do’a yang
khusyu’ kepada bapak dan ibu, tetapi kita semua juga harus dapat meneladani
segala sifat dan sikap serta perjuangan Bapak Soenarko Muchammad Sjaichan dan
Ibu Rukiyah selama hidupnya. Dan mudah-mudahan segala apa yang telah bapak dan
ibu lakukan menjadi wasilah diberikannya ampunan Alloh swt dan turunnya rahmat
dan kasih sayang, serta jalan dijauhkannya api neraka dan dimudahkannya menuju
syurganya Alloh swt, termasuk untuk kita semua selaku anak cucu dan
keturunannya.
Daftar Pustaka
Joko Wasono, Sarifudin (2015) : “Tafsir Hikmah Memoar Spiritual Kyai Muchammad Sjaichan”. Yayasan
Guru Ngaji Indonesia.
Joko Wasono, Sarifudin (2015) : “Cerita dan Sejarah Yang Terlupakan”. Yayasan Guru Ngaji
Indonesia.
Joko Wasono, Sarifudin (2015) : “ Sakelumik Riwayate WongTua : Soenarko Muchammad Sjaichan”.
Yayasan Guru Ngaji Indonesia.
Joko Wasono, Sarifudin (2015) : “Pitutur Pujangga : Diceritakan oleh Kyai Muchammad Sjaichan”.
Yayasan Guru Ngaji Indonesia.





0 komentar:
Posting Komentar