thi Kyai & Nyai ~ esjewe

Halaman

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
seorang pembelajar yang ingin bermanfaat buat orang lain

Family


Cari Blog Ini

Rabu, 23 Mei 2018

Kyai & Nyai



SIFAT  DAN PERJUANGAN
KYAI MUCHAMMAD SJAICHAN DAN NYAI RUKIYAH



I.                  SIFAT  DAN PERJUANGAN KYAI MUCHAMMAD SJAICHAN
 A.                  KREATIF DAN INOVATIF DALAM BERIKHTIAR DUNIAWI

Sebagai orang tua  Kyai Muchammad Sjaichan mengajarkan kreatif dan inovatif dalam mencari rizki, jangan terpaku dalam satu hal penghasilan, sumber atau pintu rizki. Sehingga terdapat beberapa kemungkinan untuk mendapat penghasilan apabila sumber penghasilan utama mengalami masalah. Sebagai contoh, bapak pernah menceritakan bagaimana anak-anaknya harus kreatif dengan memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya.  Pada saat bapak bekerja di Kantor Kecamatan Purwojati, bapak dikenal sebagai orang yang pintar dalam menghitung-hitung luas tanah dan mencari batas-batas tanah. Keahlian ini beliau manfaatkan ketika ada orang yang kesulitan dalam menghitung dan mencari batas tanah ketika akan terjadi akad jual beli, karena sering terjadi persinggungan dengan pemilik tanah di sebelahnya. Peran bapak dalam hal ini tidak hanya sebagai “konsultan” pertanahan tetapi juga sebagai penengah ketika konflik tanah terjadi. Bapak menceritakan (saat itu saya masih usia sekolah dasar dan diceritakan kembali saat usia sekolah di madrasah tsanawiyyah) dari pekerjaannya sebagai “konsultan” itu mendapakan jasa dari kedua belah pihak yang menjual maupun yang membeli beberapa rupiah saat itu. 
Selain itu bapak juga pernah menceritakan pengalamannya sebagai ‘broker atau perantara” dalam transaksi jual beli kambing.  Saat itu ada temannya yang tinggal di Dusun Kalisema ingin menjual kambingnya, tapi dikarenakan tidak bisa berjalan jauh ke pasar maka bapak menawarkan diri untuk menjualkannya dan menanyakan boleh tidak jika dijual dengan harga lebih hitung-hitung untuk ongkos, setelah sepakat diperbolehkan baru bapak membawa kambing tersebut, setelah ditanyakan harga yang diminta bapak membawa kambing tersebut ke pasar, setelah sampai di pasar bapak menjualnya dengan harga yang penting ada selisih lebih dari harga dasar yang harus disetorkan ke temannya. 
Kisah pengalaman kreatifitas mencarti rizki dari bapak ini sesuai dengan pengalamannya di waktu kecil, remaja maupun dewasa.  Misalkan di waktu masa anak-anak, bapak menceriitakan masa-masa kehidupan yang sulit, jangankan untuk mendapatkan kesenangan seperti anak-anak pada umumnya, untuk makan saja harus bekerja keras membantu orang tua apa saja yang dapat dilakukannya. Suatu kali ada kabar bahwa akan ada pertunjukan Wayang Kulit dari hajatan pernikahan orang yang mampu di lain desa.  Terbayang dalam benak bapak keramaian yang akan terjadi yang jarang terjadi dan banyak dinanti orang karena sangat butuh hiburan-hiburan kesenian. Seperti biasanya kabar akan adanya hajatan besar biasanya satu bulan sebelumnya sudah menjadi perbincangan masyarakat dan sudah banyak yang berandai-andai untuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit dengan segala keramaiannya orang-orang yang jualan beraneka macam makanan dan mainan.
Bapak tahu diri untuk dapat menikmati hiburan itu tidak mungkin mengandalkan orangtuanya untuk minta uang jajan sebagai bekal menonton pertunjukan karena pagelaran wayang kulit sebagaimana biasanya dilaksanakan semalam suntuk hingga subuh hari.  Mendengar bahwa satu bulan kedepan akan ada hiburan besar, bapak bekerja ekstra keras, tugas sehari-hari membantu orang tua mencari kayu bakar, ditambah dua kali lipat, setelah jatah kayu bakar untuk keluarga terpenuhi bapak mencari lagi untuk dijual. Meskipun murah sekali harganya, “sekethip-dua kethip”
kata bapak menyampaikan. Pekerjaan tambahan mencari kayu bakar itu berhari-hari dikerjakan tanpa mengenal lelah bahkan dengan suka gembira karena terbayang akan dapat menikmati hiburan semalam suntuk dengan bekal jajan yang cukup, setiap hari bapak menghitung hasil jualan kayu bakar dan menabungnya di tabungan bambu seperti kebiasaan orang saat itu pada umumnya. Tidak hanya kayu bakar, mencari rumput juga dilakukan untuk menambah “penghasilan” uang jajan.  Kerja keras ini bahkan masih dilakukan sampai satu hari menjelang pertunjukan wayang digelar.
                Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, setelah mandi di sore hari di carinya baju yang terbaik yang dimilikinya saat itu, yaitu baju bekas dari orang tuanya yang tentu saja kelonggaran, baju ini terdapat dua saku di kanan dan kiri dadanya lengkap dengan penutup berwarna putih kusam.  Satu lagi pelajaran dapat saya ambil dari cerita bapak ini adalah, pada saat mau berangkat bapak berfikir, ini uang yang cukup lumayan banyak (kalau bapak cerita jumlahnya tidak akan habis untuk makan semalaman) harus hati-hati  membawanya, bapak berfikir keras bagaimana biar aman selama membawa uang ini. Tiba-tiba terlintas ide kreatif, uang tidak dimasukan ke kantong celana atau bajunya, tetapi bapak membuat lubang di tengah-tengah bajunya di tempat jalur kancing bajunya, sehingga uang logam itu dapat dimasukannya satu persatu.  Sesampai di tempat pertunjukan bapak langsung mencari jajanan ondol kesukaannya. Sambil menikmati makanan ondol yang masih hangat satu persatu, bapak mencari posisi duduk yang nyaman di belakang “kelir” wayang kulit karena pertunjukan wayang akan segera dimulai.  Tidak terasa kantuk menyerang dan lelaplah dalam tidur malam itu sebelum pertunjukan wayang kulit dimulai.
                Pagi harinya terbangun kaget karena ada yang menggoyang-goyang tubuhnya sambil berkata keras, “ Hoi!..Bangun-bangun sudah siang, sudah bubar, bangun!.  Tidak hanya kaget karena diteriakin untuk bangun tetapi juga terlewatlah sudah untuk menyaksikan pertujukan wayang yang sudah ditunggu-tunggu selama ini. Tidak hanya itu saja, yang lebih mengagetkan lagi, ternyata uang yang dikumpulkan dengan susah payah dan disimpan dengan rapi ternyata juga sudah lenyap tidak ada lagi. Rupanya kelelahan fisik mengumpulkan uang jajan membuatnya tidak tahan berjaga dan menjaga uangnya meskipun sudah berikhtiar dengan hati-hati. Kata bapak mungkin kesalahannya, pada saat jajan ondol, saat mengambil uang ada yang memperhatikan, harusnya uang jangan dimasukan semua di tempat rahasia, tetapi sebagian yang siap untuk dipakai di pisahkan di kantong saja.
                Pada masa remaja bapak juga mengisahkan pernah menjadi pedagang keliling, jual baju, perlengkapan dapur, bahan makanan dan apa saja yang dapat dijual dengan cara dipikul berjalan kesana kemari menyusuri berbagai dusun dan desa untuk membantu orang tuanya, yang terkadang menginap dimana saja berhenti saat hari mulai petang, istirahat dan bermalam di situ dan melanjutkan perjalanan pada esok harinya. Pekerjaan ini dilakukan karena sedang sulit untuk mendapat makan karena zaman perang dan pekerjaan ini dilakukan sampai sesudah menikah tetap berjualan.  Perjalanan menjadi pedagang keliling ini sampai ke lereng Gunung Selamet. Adapun desa-desa yang pernah menjadi daerah “operasi” dagangnya antara lain Desa Karang Sari, Ragung, Sambirata, Karang Kobar, Gunung Lurah, Kejubung, Baseh, Damaraja, Karang Kepundung, Dukuh Dai, Panembahan, Rancamaya, Karang Nangka, Pliken, Ajibarang, Cilongok, Pasir, Karang Lewas, Jatisaba dan masih banyak lagi.  Hal ini dilakukan karena bapak harus menghidupi 3 (tiga) orang yaitu ibunya, dan 2 (dua) orang kakaknya. Bahkan kakak kandung perempun bapak, Uwak (Bibi) Diem pernah bercerita, bahwa saat remaja bapak pernah mengikuti perlombaan macopatan atau menyanyi jawa dan menjadi juara satu sehingga dinaikan ke panggung yang tinggi dan mendapatkan hadiah. Keberanian tampil dengan keyakinan akan kemampuan dirinya merupakan pelajaran buat anak-anaknya, bahwa potensi apapun yang dimiliki sebisa mungkin dapat dieksplore untuk minimal sebagai wadah eksistensi diri agar banyak dan mudah dikenal atau mengenal relasi-relasi bisnis dan muamalah lainnya.
                Kondisi ekonomi negara saat itu masih sulit sehingga, kegigihan dan kreatifitas mendapatkan lebih dari yang diinginkan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya terus dilakukan bapak,  juga ketika sudah menjadi seorang pemuda dewasa.   Ada kebiasaan masyarakat yang diamati oleh bapak pada usia sebagai pemuda saat itu, bahwa kebiasaan masyarakat itu bisa dijadikan peluang, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar tetapi sekaligus untuk menunjukan eksistensi diri.  Bapak mengisahkan, boleh jadi awalnya niatnya salah, tetapi itu yang urgen saat itu, agar bisa makan.
                Kebiasaan masyarakat setiap akan melakukan aktivitas atau hajat yang besar dilakukan terlebih dahulu melakukan kegiatan selamatan, kegiatan berdo’a bersama yang dipimpin oleh seorang kyai dan disudahi dengan makan dan disertai memberikan “berkat”(oleh-oleh/bawaan) buat yang ikut selamatan. Dari kegiatan ini bapak mengamati, yang selalu mendapatkan banyak bagian makanan adalah kyai-nya atau yang baca do’a.  Maka sejak saat itu bapak jika ada acara selamatan duduknya hampir selalu disamping kyainya, bukan untuk makanannya, karena sadar itu bukan jatahnya, tetapi secara diam-diam didengarnya baik-baik doa yang dibacakan kyai dan dihafalkannya. Semakin sering ada kegiatan selamatan maka semakin memperkuat hafalan do’anya, sehingga bapak saat itu sudah sampai hafal betul semua do’a yang pernah dibaca kyainya.
                Berjalannya waktu, sang kyai ini semakin renta dan payah fisiknya, sehingga suatu waktu, pada saat ada acara selamatan, sang kyai merasa lelah dan capai untuk membaca do’a. Ternyata selama ini kyai ini memperhatikan apa yang dilakukan bapak, bahwa secara diam-diam menghafal bacaan-bacaan do’a yang dilantunkannya selama ini.  Maka kyainya bilang, “Sun (panggilan kecil bapak), saya capek, kamu aja yang baca doanya, silahkan”. Antara kaget dan senang, kaget karena diberi tugas yang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan dan senang bukan kepalang, saat yang ditunggu-tunggu selama ini ada di depan mata, terbayang dalam benaknya nanti dapat berkat banyak.
Sementara hadirin masih belum hilang rasa kaget dan herannya, bapak sudah memulai bacaan doanya. Bapak menceritakan saat itu dibacanya do’a yang sudah dihafal dan disimpan begitu lama dengan lantang dan dibaca sepanjang-panjangnya yang bapak hafal, karena inilah saatnya membuktikan bahwa saya bisa. Dan dari sinilah dimulai titik balik terangkatnya nama dan derajat keluarga, karena semakin dikenal sebagai orang bisa baca doa yang direkomendasikan oleh kyai saat itu. Berjalannya waktu bapak harus banyak belajar agama dan merubah niat, karena semakin lama tidak hanya untuk baca do’a saja tetapi diharuskan memberikan wejangan-wejangan maupun nasehat-nasehat setiap kali ada kesempatan acara atau hajat di masyarakat.
                 Dari kisah bapak di atas menjadi pelajaran yang sangat berharga, bahwa bapak mengajarkan orang kalau ingin hidup harus dinamis, selalu bergerak mencari peluang-peluang meskipun terdapat kegagalan atau kesialan di sana-sini, yang penting selalu kreatif dalam berfikir dan bertindak agar peluang-peluang tetap terbuka.  Ada beberapa pesan yang pernah disampaikan pada saat saya mau berangkat merantau ke jakarta pada bulan januari  tahun 1992 adalah yang pertama, bahwa dimanapun bumi dipijak langit harus dijunjung, hal ini harus dilakukan karena jakarta kota besar yang penuh dengan banyak orang dari berbagai daerah sehingga jangan sampai salah sikap yang akan dapat berakibat buruk dalam bermasyarakat. Yang kedua, bekerja apa saja yang penting halal dan jangan takut mencoba, bahkan untuk yang satu ini mas Zubaer menambahkan, di jakarta itu banyak kantor atau gedung-gedung yang besar dan megah, kalau tertarik dengan salah satu tempat itu, masuk saja ke dalam untuk melamar di situ, dan diiyakan oleh bapak untuk tidak minder dan jangan takut. Dan yang ketiga adalah meskipun memiliki kelebihan, baik ilmu maupun kanuragan jangan sampai ditonjol-tonjolkan, karena banyak orang yang jauh lebih tinggi ilmunya, jadilah orang yang rendah hati dan mengalah untuk mencari menang, yang penting selamat.
                Itulah beberapa pelajaran tentang hidup kreatif, kerja keras dan pantang menyerah dalam mencari penghidupan.  Bapak mengajarkan ikhtiar yang maksimal kepada anak-anaknya, jangan malas dan putus asa ketika menghadapi kesulitan hidup dan tentunya diiringi dengan do’a yang kuat pula dengan memasrahkan hasilnya kepada Alloh swt.

B.                  TEKUN DALAM BELAJAR
Selama hidupnya bapak soenarko terkenal tekun dalam belajar dan menuntut ilmu. Dimanapun ada orang yang diangggap dapat dijadikan sebagai guru maka akan diusahakan untuk dapat mengunjungi dan berguru kepadanya.  Ada kebiasaan baik bapak ketika mendapatkan ilmu yang baik yaitu dengan mencatatnya secara rapi,  dan memang tulisan bapak dikenal rapi baik tulisan tangan biasa, tulisan dengan huruf hanacaraka maupun tulisan dengan arab pegon. Untuk ini saya memiliki tulisan tangan bapak yang mencatat urutan pelajaran atau materi dari kajian dari tarekat Naqsyabandiyah Qodiriyyah sebagai kenang-kenangan dan beberapa tulisan jawa atau hanacaraka.
Di dalam hal menuntut ilmu, bapak merupakan type orang yang sangat hormat dan patuh terhadap guru. Kegemarannya menuntut ilmu menjadikannya bapak sering bepergian jauh hanya untuk mencari seorang yang dianggapnya memiliki ilmu yang bermanfaat, sehingga  dari kegiatan ini tidak hanya semakin menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tetapi juga semakin banyak kawan dan pertemanan.  Bapak sanggup menunggu lama untuk bertemu kyai jika ternyata kyainya belum siap bertemu atau belum ada di tempat dan yang tidak pernah terlupakan adalah bapak selalu membawa oleh-oleh untuk orang-orang yang dianggap guru atau dituakan sebagai hadiah dan tanda takzim kepadanya.  Begitu juga ketika mendapat kunjungan orang-orang yang dianggapnya memiliki ilmu lebih maka akan diperlakukan dan dilayani sebaik mungkin, meskipun sedang kekurangan agar nyaman dan senang selama menjadi tamu di rumahnya.
Bapak menceritakan dari gurunya bahwa tarekat Naqsyabandiyah Qodiriyyah yang dipelajari merupakan warisan dari Rasulullah saw yang diturunkan kepada Sahabat Nabi Abu Bakar Sidiq r.a dan Sahabat sekaligus menantunya Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a dan terus turun kepada para waliyulloh  sehingga sampai kepada Syeikh Abdul qodir Jaelani rah. Dan terus kepada para syeikh, para mursyid, para ulama dan para kyai sehingga sampai kepada Kyai Haji Abdullah yang bertempat di Laren, dan terus diturunkan kepada Kyai Mas Muchammad Mukmin di Beji Purwokerto dan turun kepada putranya Kyai Mas Chasanredja Jatilawang yang menjadi penghulu di Lumbir.
Kyai Mas Muchammad Mukmin juga menurunkan kepada muridnya Kyai Sanirpan Tunjung dan Kyai Sanirpan Tunjung ini yang mberkahi atau membaiat Kyai Muchammad Sjaichan alias bapak Soenarko Karang Duren Purwojati pada tahun 1961 M dan sudah mendapat ijazah untuk menjadi mursyid Tarekat Nasyabandiyah Qodiriyah di wilayahnya.
Ada  kata-kata dari uraian kajian tarekat  yang  kadang menjadi renungan ;
“ Nyataning Sahadat Iku Purbaning urip”
“ Nyataning Sarengat Iku Panarimaning urip”
“ Nyataning Ma’rifat Iku Sampurnaning Urip”

C.                  SEJARAH SEBAGI SUMBER INSPIRASI
Salah satu kebiasan baik bapak adalah senang bercerita baik tentang sejarah, hikayat, dongeng maupun kisah para walisongo atau kisah para kyai dan guru-gurunya.  Dari cerita itulah bapak menyelipkan pesan-pesan moral khusus, pesan-pesan cara bersikap dan bertindak serta berprinsip ketika menghadapi masalah-masalah kehidupan.
Sudah banyak sekali kisah dan cerita yang pernah disampaikan sejak saya masih kecil dan terkadang diulang kembali pada saat lain kisah-kisah tersebut.  Saya baru sadar kebiasaan bapak ini ternyata tidak hanya untuk menghibur anak-anaknya dengan bercerita, tetapi secara tidak langsung juga anak-anaknya diajarkan belajar sejarah, belajar mengambil hikmah dari setiap cerita, belajar “membaca” situasi zaman pada saat sekarang dan yang tidak kalah pentingnya adalah bapak mengajarkan kita menggali kembali informasi yang ada dalam cerita, apakah ceritanya betul atau tidak, karena disetiap akhir cerita bapak selalu bilang, saya ngga tahu ini cerita benar atau tidak, mungkin kalau ada yang pernah ketemu tokoh-tokoh dalam cerita baik langsung atau tidak langsung (keturunannya kalau ada) atau orang yang tinggal di tempat daerah atau lokasi terjadinya kisah tersebut dan yang mungkin menemukan bukti-bukti peninggalan terkait cerita tersebut, maka akan membuktikan benar tidaknya cerita. Tetapi yang terpenting adalah bahwa semua cerita, kisah ataupun dongeng adalah menimbulkan inspirasi dalam kehidupan buat anak-anaknya.
Sejak tahun 2015 saya sendiri mencoba menggali kembali semua cerita, kisah atau bahkan yang dianggap dongeng untuk mencari hubungan rangkaian cerita dengan cerita sejarah yang sudah banyak dikenal secara umum sekaligus mencari bukti-bukti pendukung cerita.  Sampai saat ini sudah beberapa yang ditemukan lokasi maupun bukti pendukungnya. Diantaranya adalah :
1.                  Kisah Walisongo
Bapak sering menceritakan kisah perjalanan dakwah para walisongo, diantaranya adalah cerita tentang sunan kudus, sunan kalijaga dan Raden Patah serta lainnya.
                Konon Sunan Kudus memiliki seorang murid yang berbeda dengan lainnya yang bernama Hasanuddin, selain sangat berbakat baik dari pengetahuannya tentang kenegaraan, kemasyarakatan maupun kanuragan, murid yang satu ini juga memiliki sikap yang tenang dan bijaksana, meskipun sedikit tersirat ada ketegangan syarat dimukanya seperti sedang menahan kondisi pikiran dan batin tertentu.  Tidak akan terlihat oleh orang lain kecuali oleh gurunya, Sunan Kudus.  Sedikit banyak mewarisi sifat gurunya, sedikit keras dalam bertindak dan berprinsip yang memang sebenarnya sudah bawaan sebelumnya sejak kecil.  Murid istimewa ini kelak akan menjadi seorang sultan di sebuah kerajaan di wilayah Jawa Barat.
Raden Patah, Sultan pertama di tanah jawa dari kasultanan Demak Bintoro waktu masa mudanya ternyata sewaktu menjelajah pulau jawa sampai juga di daerah jawa barat salah satunya di daerah sebelah utara Gunung Gede, terdapat telaga yang sangat luas sekali seperti lautan karena hampir tidak terlihat batas pinggirnya.  Air di telaga ini sangat melimpah dan jernih, berbagai macam ikan dan tumbuhan air begitu jelas terlihat karena jernih dan bening air telaga ini. Raden Patah setelah mengamati tempat ini ternyata terdapat 7 (tujuh) mata air yang sangat besar dan deras sekali air yang keluar dan sangat dalam air telaga ini lebih kurang 50 meter kedasar telaga. Seperti mendapatkan ilham dan firasat yang menuntun Raden Ratah untuk semakin masuk ke dalam air. Semakin ke dalam banyak sekali terlihat berbagai macam ikan yang ukurannya sangat besar-besar. Sesampainya di dasar telaga Raden patah melihat ada lobang yang besar, aneh, seperti sumur di dalam dasar telaga.  Semakin penasaran, Raden Patah memasuki sumur di dasar telaga tersebut.  Inilah salah satu kelebihan dari kesaktian Raden patah, mampu menahan nafas yang sanggat lama, bahkan seperti dapat bernafas dalam air.
Setelah memasuki lubang sumur dasar telaga, ternyata lubang itu berbelok kembali ke arah atas seperti membentuk huruh “U”, diikutinya lubang itu naik ke atas dan sampailah raden Patah pada permukaan air sumur di ujung satunya, terbelalak dan terkejut Raden Patah, ternyata ujung sumur tersebut berada di dalam aula gua yang sangat luas, lebih dari 300 meter persegi.  Raden Patah keluar naik ke lantai aula gua dan melihat sekeliling, suasana di dalam gua hening dan sejuk. Di ujung sebelah selatan terdapat singgasana dari batu pualam dengan berhias permata yang terlihat sudah lama sekali tidak terpakai. Semakin ke dalam masuk semakin panjang lorong gua yang sangat luas tersebut, diikutinya lorong gua tersebut dan ternyata sangat panjang sampai kurang lebih 3 (tiga kilometer) panjang gua tersebut dan ujung gua tersebut juga ternyata tidak jauh berbeda dengan bagian muka, berada di dalam dasar telaga juga tetapi jauh diujung telaga sebelah timur. Gua dalam telaga itu memiliki beberapa bagian seperti kamar dan beberapa bagian ruang, bahkan ada kolam renang tersendiri.
Kelak Goa inilah menjadi keraton dari Kerajaan Bawah Air dan yang menjadi raja adalah Sultan Agung Hasanuddin yang merupakan murid dari Sunan Kudus. Menjadi sultan karena diangkat langsung oleh Penguasa tertinggi Kesultanan Demak Raden patah dan menjadi kerajaan bawahan kesultanan Demak.  Sultan Agung Hasanuddin ini sebenarnya masih keturunan dari Raja Pakuan Pajajaran Prabu Siliwangi dari anak perempuannya Nyi Rarasantang.  Menjadi seorang sultan di sebuah kerajaan yang sangat berbeda diperlukan pengawal dan pasukan yang memiliki kelebihan tersendiri.  Untuk mendampingi Sultan Agung Hasanuddin diutuslah murid Sunan Kalijaga yang memiliki kelebihan tersendiri dengan dunia air, dialah yang menjadi panglima dari pasukan Kerajaan Bawah Air.  Panglima utamanya ada empat orang dan mereka berempatlah pasukan kerajaan itu yang dipimpin murid sunan Kalijaga.  Sedangkan rakyatnya sebanyak 25 (dua puluh lima) orang yang dibawa langsung dari Kesultanan  Demak yang merupaka orang-orang pilihan dan semuannya dibekali oleh para guru-gurunya para walisongo dengan berbagai kelebihan salah satunya mampu bernafas dalam air.
Saat ini telaga tempat Kerajaan Bawah Air ini sudah menyusut banyak menjadi daratan dan banyak rumah dan gedung berdiri di atasnya. Saya meneliti tempat ini dari pencarian tempat yang memiliki 7 (tujuh) mata air tahun 2015, semakin banyak bangunan dan perumahan yang dibangun di atasnya dan banyak terjadi pengurukan telaga yang saat ini sudah menjadi semacam danau kecil.  Tetapi kedua pintu masuk masih tidak terlihat karena berada di bawah air meskipun airnya sudah sangat menyusut dan sudah terpisah jauh.  Hutan di sekitar yang tidak jauh dari pintu masuk sejak zaman belanda dijadikan perkebunan karet dan hutan pinus, saat ini sudah dijadikan beberapa komplek perumahan sekolahan dan tempat usaha serta kantor pemerintahan.  Saya tidak bisa menyebutkan tepatnya tempat ini karena takut ada penjarahan harta benda yang sangat berharga yang jumlahnya sangat banyak yang berada di dalam Keraton Kerajaan bawah Air ini, baik harta benda berupa emas permata, alat musik gamelan jawa maupun perhiasan-perhiasan ruangan, tetapi yang pasti dulu tempat ini banyak sekali menghasilkan buah kemang, manggis dan rambutan, dan tidak jauh dari rel kereta api. Ada keunikan ketika saya berenang di air yang ada di bagian pintu depan, tidak tahu mengapa susah sekali badan saya yang beratnya 185 kg ini untuk tenggelam, ketika  mencoba menyelam selalu badan saya terangkat keluar.  Meskipun begitu banyak juga yang sudah mati tenggelam . Berbeda dengan bagian air di sekitar pintu belakang gua, baru menginjak air dipinggiran saja bawaannya mau langsung tenggelam, padahal dipinggiran saja airnya sangat dalam dan menurut cerita sering tampak ular besar dan buaya di tempat ini. Dan saat ini mata air yanng tadinya ada 7 (tujuh) tempat sekarang tinggal 3 (tiga) tempat mata air yang masih lancar mengeluarkan air jernih.
2.                  Kisah Ho No Co Ro Ko
Bapak sering menceritakan latar belakang dari munculnya aksara Jawa Ha Na Ca Ra Ka Kisah tentang Raden Aji Saka dengan Prabu  Dewata Cengkar, seorang raja yang suka memakan manusia untuk tumbal kesaktiannya dari Kerajaan Medangkamulan.  Dari cerita bapak juga disampaikan tentang bagaimana kondisi keratonnya yang sangat besar karena kerajaan ini sebelumnya memang kerajaan yang sangat makmur ketika raja yang memerintah adil dan bijaksana.  Kata bapak menurut cerita ciri istananya ada pelataran yang luas dan pintu gerbangnya yang besar.  Karena dikisahkan pada saat Raden Aji Saka akan memasuki istana beserta dua carakanya, Raden Aji Saka meminta kepada salah satu pembantunya atau caraka yang setia selama ini menemani kemanapun pergi untuk tidak ikut masuk ke dalam,  akan tetapi untuk menunggu diluar gerbang istana kerajaan untuk menjaga senjata pusaka pribadi Raden Aji Saka yang berupa keris yang memiliki kekuatan besar, karena dilarang membawa senajat ketika akan menemui raja.  Takut diambil oleh para punggawa kerajaan saat pemeriksaan maka lebih baik ditinggal diluar istana.  Caraka ini bukan caraka sembarangan, kedua sosok caraka ini lebih mirip kepada seperti resi, meskipun berusia lanjut akan tetapi keduanya memiliki fisik yang tidak kalah bugar dan kuat sebagaimana orang-orang yang masih muda usianya.  Selain keduanya sama-sama memiliki kesaktian yang tinggi dengan ilmu beladirinya yang mumpuni, Keduanya juga orang yang sangat amanah dalam menjalankan perintah tuannya Raden Aji Saka. Sebagaimana kisah ini telah kita dengar, ketika caraka yang ditugasi menjaga keris pusaka untuk tidak menyerahkan kepada siapapun, maka ketika caraka yang satunya disuruh mengambil oleh Raden Aji Saka tidak diberikan sehingga terjadi selisih pendapat yang mengakibatkan perkelahian yang berujung kedua caraka ini tewas karena bertikai menjalankan amanah.  Yang satu diperintah untuk mengambil yang satu lagi diperintah untuk menjaga.  Dikisahkan memang keris pusaka ini sangat menarik buat siapa saja yang memegangnya.  Begitu dipegang keris ini, maka akan terasa langsung energi yang ada di dalam keris ini.  Keris ini memiliki dua kekuatan besar yang berasal dari energi alam para naga dan para harimau jawa, sehingga tanpa dipergunakanpun pemegangnya dapat mengeluarkan tenaga dalam yang besar dan menyerupai salah satu dari kedua binatang tersebut.  Selain bisa bergerak cepat, meloncat tinggi dan jauh, melayang terbang, juga dapat mengeluarkan api dari pukulan tangannya.
Caraka yang menjaga keris pusaka ini menunggu di luar istana di sebelah depan arah utara sejauh 1000 meter ke arah timur laut, dimana di tempat ini terdapat sumber air yang sangat besar dan jernih airnya yang muncul diantara pepohonan di atas bukit. Dan di tempat inilah tempat kedua caraka bertarung hingga menemui ajalnya.  Adapun kerisnya masih tertinggal di tempat tersebut hingga saat sekarang dan ditempat tersebut ada yang sering melihat seekor ular putih yang sangat besar atau naga putih mendiami tempat tersebut.
Setelah diamati, lokasi keraton Kerajaan Medangkamulan ini berada  di daerah yang cukup strategis yang masuk daerah Kabupaten Bogor Jawa Barat, disebelah timur terdapat bukit yang cukup tinggi memanjang laksana benteng alami, di bawah bukit terbentang sungai yang sangat dalam dan luas dengan aliran airnya yang sangat deras.  Disebelah selatan dan utara terbentang perkebunan berbagai macam buah-buahan dan pertanian.  Disebelah barat daerah yang berbukit, pegunungan dan lembah dengan hutannya yang lebat penuh dengan berbagai macam binatang liar.
Keraton Medang kamulan ini sangat besar dan sangat megah, dikelilingi dengan tembok yang tebal dan tiinggi dan berbentuk seperti segi limas. Temboknya dibuat bermotif lingkaran berkotak dengan bolatan di tengah. Sewaktu  saya mengukur luas kerton medangkamulan ini dari arah pingggir sebelah timur, lebar keraton kurang lebih  500 meter dan semakin melebar ke arah belakang atau ke arah selatan.   Setiap jarak 10 – 15 meter terdapat tiang menara, yang berfungsi sebagai penguat tembok sekaligus sebagai tempat prajurit yang berjaga memantau keadaan sekitar melalui tiang semacam menara kecil. Bagian gapura gerbang depan terdapat menara yang cukup tinggi di kanan kirinya dengan jarak kurang lebih 100 meter.  Sehingga jika dilihat dari depan semakin kelihatan megah dan berwibawa karena prajurit penjaga tidak hanya ada di tiap menara, tetapi di bagian depan samping kanan kiri gerbang juga terdapat pos jaga yang dibuat menyatu dengan bangunan tembok gapura, yang digunakan untuk beberapa prajurit berjaga. Dua menara yang di depan yang terbesar tidak hanya untuk tempat pengawasan melihat area yang jauh, tetapi juga digunakan sebagai tempat lonceng untuk membuat isyarat ketika dalam keadaaan bahaya, maupun untuk memanggil rakyatnya ketika ada titah raja yang penting.  Pada zaman setelah Kerajaan dikuasai oleh Raden Aji Saka, fungsi lonceng ditambah sekaligus sebagai pembertahuan kalau hari sudah fajar, sudah siang tengah hari, ketika setelah matahari tenggelam dan ketika hari masuk tengah malam.  Dua menara ini bagian atas dibuat semacam kubah dimana dibawahnya terdapat lonceng dan disangga dengan empat tiang berbentuk bulat ukuran kecil.
Masuk ke dalam bagian gerbang akan terlihat bangunan yang sangat indah, rapih dan teratur dari segi fungsinya.  Lurus searah gerbang setelah lapangan kurang lebih 300 meter ke dalam terdapat dua buah bangunan yang sangat panjang sehingga kesannya semacam lorong ke arah bangunan utama. Dua bangunan yang panjang ini berdampingan, satu yang sebelah timur untuk arah masuk dan satunya lagi untuk keluar dari bangunan utama ke arah lapangan dan gerbang.  Bentuk bangunan masing-masing mengerucut ke atas seperti bentuk pengimaman pada masjid atau mushala.  Sepanjang lorong terdapat beberapa ruangan kecil untuk menempatkan prajurit maupun untuk penghuni istana atau tamu kerajaan yang sedang berbincang-bincang sesaat akan masuk atau setelah keluar dari ruang utama atau untuk sekedar bercengkerama antara tamu kerajaan yang sama-sama sedang berada di istana kerajaan. Sepanjang lorong dipenuhi dengan hiasan-hiasan yang unik yang berwarna warni dan berharga. Disebelah samping bangunan panjang tersebut kanan dan kirinya terdapat bangunan yang luas berbentuk persegi panjang yang berfungsi sebagian untuk barak prajurit yang berjaga lengkap dengan gudang senjatanya selain gudang senjata yang ada di bagian dalam bangunan utama istana, sebagian untuk tamu-tamu kerajaan yang harus menginap karena datang pada malam hari atau pada saat menunggu sang raja yang belum ada karena sedang keluar istana.
Masuk lebih dalam lagi dari bangunan lorong panjang tersebut, sampailah pada bangunan utama yang berupa aula yang sangat luas dengan bentuk bersegi lima.  Bangunan utama ini dikelilingi oleh bangunan bertingkat yang berisi kamar-kamar dan ruangan-ruangan yang sangat banyak yang diperuntukan bagi penghuni istana dari kalangan pejabat atau semacam kantor masing-masing pejabat dan sekaligus keluarganya.  Bangunan ini berarsitektur seperti bangunan eropa dengan ornamen tiang dan berbentuk melengkung setiap blok kamarnya.
Ke arah bagian tengahnya yang merupakan bangunan aula dan beberapa kamar untuk raja dan permaisuri, singgasana tempat duduk raja dan hamparan permadani untuk para punggawa kerajaan serta beberapa ruangan lagi disekitarnya.  Pemisah antara bangunan aula dengan bangunan disekelilingnya adalah taman bunga dan tanaman hias serta kolam ikan yang sangat indah mengelilingi bangunan aula, sehingga suasan di dalam aula sangat asri, sejuk dan tenang ketika terdapat pertemuan-pertemuan kerajaan.  Bangunan aula ini juga terdiri dari tiang-tiang bulat yang tinggi dengan bentuk melengkung bagian atasnya.  Atap bangunan ini terdiri dari beberapa kubah yang berbeda ukuran dan warnanya.  Kubah yang terbesar yang berada di bagian tengah dengan warna emas karena memang terbuat dari emas. Sedang masing-masing pojok segi lima terdapat kubah kecil berwarna hijau dan orange berbahan batu pualam dengan disangga oleh menara yang cukup tinggi.  Menara kubah yang tertinggi yang berada di sebelah barat bagian selatan atau arah belakang sebelah barat.  Arsitektur bangunan ini mirip bangunan dari daerah persia, india dan sejenisnya yang menggunakan kubah semacam kubah masjid. Sehingga menariknya bangunan besar berkubah ini dikelilingi bangunan bertingkat seperti model bangunan eropa dan yunani.
Lebih kedalam lagi setelah bangunan aula yang besar, terdapat bangunan yang tidak kalah megahnya dan berjumlah ada tiga bangunan yang besar dan panjang. Satu lurus kebelakang arah selatan, satu lurus menyerong arah kiri dan satunya lagi menyerong arah kanan, dan bentuk ketiga bangunan ini sama besar dan sama panjangnya.  Bangunan yang lurus ke arah belakang diperuntukan bagi raja dan permaisuri beserta anak-anaknya. Sedangkan bangunan yang menyerong ke arah kanan untuk para selir-selirnya dan keluarganya dan dayang-dayang istana. Sedangkan bangunan satu lagi yang menyerong ke arah kiri diperuntukan untuk berbagai macam keperluan kerajaan, dari mulai gudang perbekalan bahan pokok makanan, kain dan pakaian, perlengkapan raja dan permaisuri, perlengkapan istana kerajaan, gudang senjata, dapur umum dan dapur khusus keluarga raja serta tabib istana tempat untuk berobat jika ada yang mengalami sakit.
Adapun gudang harta kerajaan dibagi tiga tempat, yaitu di bangunan aula, bangunan para selir dan bangunan utama raja dan permaisuri.  Secara garis besar istana kerajaan medangkamulan ini dibagi menjadii tiga bagian yang masing-masing dipisahkan dengan tembok yang tebal dan tinggi, dimana bagian atasnya tempat mondar-mandir para prajurit menjaga istana, dengan pagar besi yang berciri khusus di setiap pinggirnya.  Keberadaan gudang harta ini amat sangat rahasia, hanya punggawa kerjaan terpilih saja yang tahu, kecuali gudang yang berada di bagian aula.  Gudang harta ini sedikit banyak penghuni istana mengetahu dari mulut ke mulut secara diam-diam dan memang ini disengaja oleh pihak raja agar orang mengira hanya disitulah gudang kekayaan kerajaan dan dibuatlah terlihat penjagaan khusus untuk area ini. Gudang ini memang dipergunakan untuk keperluan rutin kerajaan. Pembagian gudang harta ini untuk mengantisipasi jika terjadi kekacauan yang melanda istana, sehingga yang jumlahnya jauh lebih banyak masih tersimpan rapih di bangunan utama raja.  Saat ini ketiga gudang harta ini masih ada beserta isinya emas permata, pusaka, batu mulia dan benda berharga lainnya, kecuali yang bagian aula tinggal sedikit, karena disaat akhir-akhir kerajaan ini runtuh sempat diambil untuk bekal keluar keluarga kerajaan, sedangkan dua gudang lainnya sebagai cadangan di masa yang akan datang ketika memungkinkan untuk mendirikan kerajaan kembali.
Disebelah belakang tembok besar pemisah antara lapangan bagian depan dengan area bagian tengah atau samping aula terdapat istal atau tempat rumah kuda-kuda kerajaan, baik untuk keperluan perang maupun untuk tunggangan raja dan keluarganya dan pada bagian masing-masing jarak antara tiga bangunan terdapat taman bunga untuk keluarga raja.  Sedangkan pada sisi sebelah timur bangunan yang serong ke kiri dipergunakan untuk berbagai macam ternah, baik kambing, ayam maupun ikan.  Terdapat pintu rahasia istana pada bangunan yang tengah untuk raja yang berupa lorong yang panjang di bawah tanah menuju arah selatan dan tembus ke sungai yang besar melewati bawah tembok pembatas istana yang mengelilingi istana kerajaan.
Saat ini bangunan istana kerajaan ini masih ada dan tertimbun tanah karena diatasnya banyak tumbuh pepohonan dan banyak berdiri rumah-rumah penduduk, pusat perbelanjaan dan sarana umum lainnya.  Kondisi sekarang sangat ramai karena dekat dengan pusat transportsi umum kereta api.

3.                   Kisah Lain
Masih terdapat beberapa cerita yang belum sempat saya menulisnya seperti kisah Bajul Seto, Pedang Nagapuspa, Ratu Ikan mas dan kisah orang-orang zaman tokoh pewayangan yang masing-masing masih ada peninggalannya.


II.                  SIFAT DAN PERJUANGAN IBU RUKIYAH

A.      Taat dan patuh dengan orang tua dan suami

Patuh Kepada Orang Tua
Tanggal 29 November 1945 tidak lama setelah indonesia merdeka Ibu Rukiyah menikah dengan bapak ketika masih berusia 9 tahun lebih  dan masih kumpul dengan orang tuanya dan bapak saat itu berusia 23 tahun.  Setelah menikah tetap kumpul dengan orang tua kurang lebih 2,5 tahun.  Dari peristiwa pernikahan ini saja dapat dimengerti bahwa ibu seorang yang sangat penurut dengan orangtuanya, disuruh menikah pada usia sangat dini, dimana anak-anak yang lain sedang senang-senangnya bermain.  Bahkan kata bapak sesaat  setelah menikah pun masih suka bermain dengan teman sebayanya, karena ibu juga dikenal sebagai anak yang dapat menjaga persahabatan sesama teman sehingga teman-temannya merasa di “emong” oleh ibu ketika bermain.  Untuk bermain ibu memiliki kreatifitas membuat mainan-mainan sendiri seperti untuk mainan boneka dibuatnya sendiri dari bahan alami yang ada di sekitar, begitu pula untuk mainan yang menggunakan tali atau lainnya.  Pernikahan dini yang diminta orang tua agar dapat mengurangi kesusahan hidup saat itu pun dipatuhi dan ditaati dengan harapan dapat membantu orang tua dalam mengurangi beban hidup dan terdapat harapan hidup yang lebih baik setelah menikah.
Selain itu juga ibu dikenal sebagai anak yang sangat rajin membantu orangtuanya atau dibilang paling rajin, tanpa kenal lelah dan letih ketika banyak pekerjaan orang tua yang memerlukan bantuan, baik ke sawah, ladang, kebun atau mencari makanan dan kayu bakar serta membantu pekerjan-pekerjaan rumah lainnya termasuk memasak.  Kalau kata ibu, tidak ada berhentinya, selalu ada yang dikerjakan, bahkan hingga menikah dan memiliki anak.

Patuh kepada suami
Setelah menikah sifat patuh dan taat kepada orang tua tidak berubah dan tetap dilakukannya bahkan sifat itu ibu pakai juga kepada suaminya.  Salah satu kebiasaan ibu, ketika memiliki sedikit kelebihan rizki seperti makanan, maka akan segera mengirimkannya kepada orang tuanya agar dapat ikut menikmati apa yang sedang dinikmatinya. Patuh kepada suami ketika suami menginginkan pisah rumah meskipun masih usia belia harus berpisah dengan orang tuanya dan taat kepada suami harus dapat menjalani kehidupan yang baru lengkap dengan segala kekurangannya.
Ibu dikenal orang yang sangat menjaga wibawa, martabat dan nama baik suami dan keluarga, dengan tidak mudah mengeluh kepada sembarang orang tentang kesusahan-kesusahan dan kesulitan hidup yang dialaminya dalam pernikahan.  Perlakuan kepada suami sangat hormat. Ibu menjaga betul suasana perasaan suami meskipun harus mengorbankan perasaan sendiri, ketika ingin berkeluh kesah tetapi diilihatnya suami sedang tidak enak suasana hati pikiranya, maka ibu memilihnya untuk disimpannya sendiri dan cukup mengadu kepada Yang Maha Kuasa.  Sebisa mungkin dapat menyiapkan minuman atau camilan setiap paginya meskipun sedang tidak ada apa-apa di rumah.
Ibu berkisah ketika masa sulit ekonomi di keluarga terkadang harus menjual hasil bumi atau kebun untuk memenuhi kebutuhan beras atau bahan dapur lainnya termasuk minyak dan gula karena tidak memiliki uang untuk membelinya, sementara suami tidak tahu kalau uang belanjanya sudah habis dan untuk memintanya dirasa tidak mungkin karena sedang masa-masa sulit.

B.      Pandai Memasak
Kebiasaan membantu orang tua di dapur membuat ibu memiliki pengetahuan yang banyak dalam menyiapkan bahan masakan dengan bahan alakadarnya meskipun belum bisa memasak.  Kepandaian memasak ibu dimulai sejak berpisah, awalnya bapak yang memasak, tetapi ibu dengan cepat belajar untuk dapat memasak. Berbekal pengetahuannya ketika membantu orangaa tuadalam menyiapkan bahan masakan, maka ketika memasak kreatifitas ibu berlanjut, ketika ketemu daun talas, di masak daun talas, ketemu daun suweg ya dimasak daun suweg, apalagi kalau ada ikan atau ayam dan kemampuan ini semakin terasah ketika hidup mandiri dengan bapak dengan kebiasaan memasak dengan bahan alakadarnya tanpa mengurangi rasa kesedapan dan kelezatannya dan tetap dilakukannya demi anak-anaknya agar dapat tetap makan.
Yang masih sangat terkenang ketika saya diminta membantu ibu untuk membuat ketan, membuat minyak klentik, membuat kue lapis dan membuat bothok serta ketika bapak minta dimasakkan makanan kesukaannya,  pecak ikan, rasanya seperti masih terasa di lidah jika mengingatnya. Apalagi jika mengolah makanan dari bahan ubi kayu atau singkong, banyak jenis yang dapat dibuatnya.  Karena keahlian memasak inilah yang membuat saya pribadi sebagai anaknya tidak merasa punya keinginan makan masakan yang lain karena sudah cukup menikmati apa yang di sediakan oleh ibu.
Sebagai seorang ibu rumah tangga,  ibu tidak hanya sangat kreatif seperti berjualan apa saja yang dapat dijual, ibu juga melakukan barter jenis makanan dengan bahan pokok lainnya seperti hasil kebun seperti kelapa dengan beras, atau singkong dengan beras atau bahan lauk untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dengan keterbatasan jatah bulanan, ibu juga sangat prihatin dan mengalah jika makanan yang ada tidak cukup dimakan oleh seluruh anggota keluarga.  Ibu pernah bercerita, beberpa kali ibu tidak kebagian nasi, yang dilakukannya adalah makan sisa-sisa nasi yang menempel di bakul tempat nasi dan ini tidak ada yang tahu bahkan bapak sebagi suaminya sendiri tidak pernah dibeitahu akan hal ini.  Dalam kondisi sakit tetap harus ada yang dapat dimasak, maka yang dilakukannya adalah menjual apa saja yang bisa dijual atau di barter dengan pergi ke pasar secara diam-diam.  Ibu berfikir yang penting anak-anak dan suami senang dan tenang melewati hari itu.
.
C.      Pandai menabung dan suka memberi
Meskipun rumah tangga sejak menikah banyak sekali mengalami kesulitan dan banyak membutuhkan biaya hidup termasuk untuk anak-anaknya, ibu masih sempat dan dapat menyisihkan sebagian rizki yang diberikan bapak untuk ditabung dan hasilnya dibelikan perhiasan emas atau sepetak dua petak tanah. Tahun 1954 sudah bisa menabung perhiasan emas 21 gram semenjak bapak diterima sebagai agen polisi tanggal 01 Juli 1950 dengan gaji Rp. 82,50,-, meskipun langsung habis emas tersebut dipinjam saudara.  Tetapi dengan segala kesusahannya dan banyaknya kebutuhan hidup sampai pensiunnya dapat menabung kembali perhiasan emas sebanyak 110 gram dan tanah 7 (tujuh) tempat.
Kondisi ekonomi yang sulit dan susah payah menyisihkan untuk menabung, tidak membuat ibu menjadi orang yang bakhil, kikir, medit atau sebutan lainnya.  Justru di sisi lain ibu memiliki kebiasaan berbagai dengan saudara dan para tetangga.  Ketika memiliki kelebihan sedikit makanan atau hasil kebun.  Saya mengalami sendiri bagaimana diminta membantu ibu untuk mengantarkan masakan ke beberapa tetangga atau orang yang dianggap lebih kurang mampu, apalagi saudara meskipun jauh tetap diantarkan.  Saya pernah mengantar makanan semangkok-semangkok ke beberapa orang di Karang Duren Kidul, Ke Kalisema dan beberapa sekitar rumah.  Begitu juga ketika ada hasil kebun yang cukup lumayan, apakah ubi-ubian, pisang, mangga, nangka, jambu air atau jeruk.   Termasuk Jeruk Bali yang ada di pekarangan rumah, minimal satu rumah dapat separo /setengah jeruk bali, karena ukuran jeruk bali yang ada besar-besar berbeda dengan jeruk bali sekarang.
Pelajarannya disini sebisa mungkin kita anak-anaknya dalam rumah tangga dapat menabung untuk masa-masa yang sulit dan jangan lupa tetap beramal kebaikan dengan berbagi terhadap sesama apalagi saudara.

D.      Pengayom Keluarga
                Sejak kecil ibu memiliki sifat sebagai pengayom keluarga, manakala dalam keluarga terdapat masalah-masalah atau terjadi konflik keluarga.  Ibu sedapat mungkin melakukan upaya sebagai penengah dan penyatu serta menjadi tempat berbagi keluh kesah.  Begitu juga ketika sudah menikah dan memiliki anak-anak.  Sifat pengayom ini ibu lakukan untuk menghindari perpecahan atau konflik keluarga, baik antara keluarga orang tuanya, keluarga suami maupun keluarga sendiri.  Untuk melakukan ini ibu harus melakukan komunikasi dua arah antar dua pihak yang sedang ada masalah atau melakukan komunikasi dengan anak-anaknya ketika mendapatkan banyak masalah.  Kebiasaan mendengarkan dan berkomunikasi inilah yang membuat suasana nyaman kepada siapa saja termasuk kita anak-anaknya.  Misi dari sifat dan sikap ibu ini adalah agar ada ketentraman dalam keluarga dan persaudaraan.  Ibu ingin menunjukan kepada anak-anaknya, hendaknya siapa saja dari anak-anaknya dapat menjaga tali kasih, tepo seliro dan saling mendukung sesama saudara, karena ini juga yang diminta oleh bapak.  Pengorbanan ibu untuk dapat menjaga kekeluargaan antara lain adalah ketika ibu memberikan pinjaman tabungan perhiasan emas yang dikumpulkannya dengan susah payah menyisihkan sedikit demi sedikit rizki yang ada kepada salah satu Pakde-nya dari keluarga orangtuanya yang sedang membutuhkan uang saat itu, emas seberat 21 gram diberikan sebagai pinjaman meskipun tidak kembali lagi, padahal saat itu ibu di rumah juga sedang sangat kekurangan.
                                            
E.       Sabar dan tabah menghadapi ujian hidup
                Kesabaran dan ketabahan ibu ini luar biasa, orang tuanya, suaminya bahkan anak-anaknya banyak tidak tahu apa yang sudah dan sedang terjadi pada ibu. Selama menikah begitu banyak kesulitan hidup sejak berpisah dengan orang tuanya hidup di gubuk yang sudah reot tidak pernah dikeluhkan kepada orang tuanya. Sekitar tahun 1964 ibu pernah mengalami pendarahan karena keguguran usia kandungan 8 (delapan) bulan yang mengakibatkan pendarahan hebat dan hampir kehilangan nyawa sehingga dirawat di rumah sakit umum selama 21 (dua puluh) satu hari, meskipun begitu ibu tetap mau mengandung kembali untuk mendapatkan anak kembali. Puncaknya ketika sekitar tahun 1980 ibu mengalami sakit tergeletak lumpuh hanya bisa tidur selama 1 (satu) tahun dan total sakit selama 2 (dua) tahun yang menghabiskan biaya besar saat itu karena harus berobat kemana-mana.
Mengalami beberapa kali sakit yang berat tidak membuat ibu menjadi orang yang putus asa, akan tetapi ibu pasrahkan segalanya kepada Alloh swt yang telah mengatur segalanya.  Bahkan dihari-hari sakitnya beberapa bulan menjelang Alloh panggil kehadirat-Nya, ibu masih memikirkan untuk kesenangan anak-anaknya beberapa kebutuhan anak-anak yang kecil termasuk saya belum ada, ibu bela-belain dengan menghemat dan menjual apa saja untuk membeli pakaian yang saya minta saat itu.
Hampir tidak pernah ibu memikirkan dirinya, yang ibu pikirkan bagaimana anak-anaknya dan suaminya. Meskipun sebenarnya juga ingin memiliki baju yang pantas seperti orang-orang, ingin juga jalan-jalan plesiran melepas penat, tetapi keinginan itu dipendamnya demi ketenangan keluarga dan anak-anak.
                Maka sudah sepantasnyalah kita anak-anak keturunannya, tidak hanya selalu mengirimkan untaian do’a yang khusyu’ kepada bapak dan ibu, tetapi kita semua juga harus dapat meneladani segala sifat dan sikap serta perjuangan Bapak Soenarko Muchammad Sjaichan dan Ibu Rukiyah selama hidupnya. Dan mudah-mudahan segala apa yang telah bapak dan ibu lakukan menjadi wasilah diberikannya ampunan Alloh swt dan turunnya rahmat dan kasih sayang, serta jalan dijauhkannya api neraka dan dimudahkannya menuju syurganya Alloh swt, termasuk untuk kita semua selaku anak cucu dan keturunannya.






















Daftar Pustaka


Joko Wasono, Sarifudin (2015) : “Tafsir Hikmah Memoar Spiritual Kyai Muchammad Sjaichan”. Yayasan Guru Ngaji Indonesia.
Joko Wasono, Sarifudin (2015) : “Cerita dan Sejarah Yang Terlupakan”. Yayasan Guru Ngaji Indonesia.
Joko Wasono, Sarifudin (2015) : “ Sakelumik Riwayate WongTua : Soenarko Muchammad Sjaichan”. Yayasan Guru Ngaji Indonesia.
Joko Wasono, Sarifudin (2015) : “Pitutur Pujangga : Diceritakan oleh Kyai Muchammad Sjaichan”. Yayasan Guru Ngaji Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel

mudah-mudahan bermanfa'at

salam

Ketika matahari terbit.....

Ketika bulan dan bintang muncul.............

Ketika bayi terlahir ke dunia.............

Ketika segala sesuatu yang baru muncul.......

Sejatinya mereka memperkenalkan diri.........

Salam dari esjewe untuk semua.............

Entri Populer

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More