Kerajaan
Singaparma/ Mojopura
(Hikayat Raden Santang
Kahuripan)
Kerajaan Mojopura
yang terletak di daerah Jawa Timur merupakan sebuah kerjaan yang berdiri tahun 1057 masehi, sebelum Kerajaan Jenggala
dan Kediri serta Singosari. Letaknya di
sekitar Singosari sekarang ini. Rajanya bernama Prabu Tejalengkara 1057 bertahta selama 4 (empat) tahun. Setelah wafat digantikan anaknya dan menjadi
raja yang ke dua yaitu Prabu Tejangkara I
bertahta selama 14 tahun dari tahun 1061 – 1075 dan meninggal karena sakit
digantikan oleh anaknya Prabu Tejangkara
II, hidup dari tahun 1035 – 1165 (berusia 200 th), ketika naik tahta
berusia 40 tahun atau tahun 1075. Setelah meninggal digantikan oleh anaknya Prabu Tejangkara Jayawardhana (Tejangkara
III) hidup tahun 1150 – 1351 (berusia 201 th). Naik tahta pada usia 15
tahun atau pada tahu 1165, dengan keratonnya yang megah bernama Keraton Garuda Wiru. Keraton ini dipenuhi dengan hiasan emas di
setiap sudut keratonnya, menambah wibawa dan kemewahan bangunan Keraton Garuda Wiru. Sebuah keraton
dengan ciri khas sebuah Patung Burung Garuda yang sangat besar berwarna biru
sedang mengembangkan sayapnya, ditempatkan di gerbang keraton. Lambang garuda wiru ini bukan asal-asalan
karena Prabu Tejangkara Jayawardhana
memiliki kesaktian yang dapat berubah
menjadi burung garuda yang gagah perkasa dengan ukuran yang sangat besar.
Kerajaan Mojopura
merupakan kerajaan yang makmur dan rakyatnya merasa tentram dalam kehdupannya
sehari-hari karena memiliki raja yang arif bijaksana dan berlaku adil. Prabu Tejangkara Jayawardhana memiliki
kebiasaan berkelana keluar dari keratonnya untuk melihat kondisi rakyatnya
secara dekat dengan dikawal oleh para punggawanya dengan membawa perbekalan
secukupnya, apakah ada rakyatnya yang sedang kesusahan atau tidak untuk
ditolongnya. Salah satu komoditi yang
dihasilkan dari wilayah Kerajaan Mojopura ini adalah hasil bumi dan
kebun, selain itu kebiasaan rakyatnya juga memelihara ayam dan kambing. Dari hasil pertanian, perkebunan maupun
ternaknya banyak yang dibawa keluar wilayah kerajaan, sehingga banyak yang
menjadi pedagang, baik pedagang di dalam negeri maupun menjadi pedagang ke luar
negeri Kerajaan Mojopura.
Disisi lain,
para lelaki di kerajaan ini juga rajin melatih ilmu kanuragan selain untuk
menjaga wilayahnya juga untuk bekal jika bepergian ke luar ketika ingin melancong atau berdagang. Keramaian di pusat kota Singaparma ini juga
menjadi perhatian orang-orang dari wilayah lain, sehingga banyak sekali
pengunjung dari wilayah kerajaan lain yang ingin berdagang atau membeli
kebutuhan hidup.
Dari kebiasaan Prabu Tejangkara Jayawardhana
berkeliling di wilayah kerajaannya, suatu hari Sang Prabu melihat seorang perempuan
yang berpakaian lain dari yang lain. Pakaian yang bukan biasa dipakai oleh
rakyatnya yang terbiasa terbuka bagian atasnya dan untuk para wanitanya dengan
semacam kemben saja, akan tetapi perempuan ini mengenakan pakaian yang tertutup
seluruh badannya dengan selembar kain menutup kepala dengan diselempangkan dari
samping ke belakang, wanita ini berkerudung.
Pemandangan yang janggal ini sangat menarik perhatian Sang Prabu Tejangkara Jayawardhana,
setelah diamati cukup lama gerak gerik wanita ini lalu didekati dan
ditanya. “ Maaf nyai, nyai ini siapa?
Kok sangat berbeda cara berpakaiannya dengan rakyat disini? Tanya Sang Prabu
dengan hati-hati penuh penasaran. Wanita
berkerudung yang semakin kelihatan anggun dengan kerudungnya ini menjawab “
Nama saya Siti Aisyah, saya seorang
muslim” jawab perempun berkerudung ini. “ Muslim itu apa?” lanjut sang Prabu
penasaran. “ keyakinan keimanan saya islam, agama saya islam” kembali siti
Aisyah menjawab. Nama ini dianggap aneh karena Kerajaan Singaparma merupakan
kerajaan hindu. Setelah dijelaskan
sedikit tentang agama islam, Sang Prabu mengucapkan terima kasih dan
menjulurkan tangannya untuk bersalaman seperti biasa dan sebagai rasa hormat
dengan perempuan yang baru dikenalnya ini, akan tetapi dia kaget karena Siti Aisyah tidak menyambut tangannya
tetapi hanya menyatukan telapak tangan di depan dada. Sang Prabu bertanya
kembali “ Kenapa?” , “ maaf, tuan bukan muhrim saya” jawab Siti Aisyah dengan halus. “ muhrim? Apa itu muhrim?” keheranan sang
Prabu dengan jawaban dan perilaku perempuan ini. Setelah dijelaskan apa itu muhrim, Sang
Prabu semakin tertarik dengan Siti
Aisyah dan menyatakan ingin belajar lebih banyak lagi dan oleh Siti Aisyah diantarkan kepada yang
lebih tahu yaitu orang tuanya dan gurunya.
Rupanya kebiasaan rakyatnya yang bepergian keluar kerajaan untuk
berdagang, tanpa disadari telah terjadi persinggungan budaya dan keyakinan dari
berbagai kerajaan lainnya dan salah satunya adalah keluarga Siti Aisyah.
Setelah Prabu Tejangkara Jayawardhana mengerti
apa itu islam maka beliau masuk islam dan menikahi Siti Aisyah, seorang
perempuan yang telah menunjukan jalan hidayahnya. Nama Prabu Tejangkara Jayawardhana diberi
nama panggilan baru Nur Sulaiman. Prabu Tejangkara Jayawardhana atau Raja Nur Sulaiman bermunajat kepada
Yang Kuasa untuk minta dipanjangkan umurnya seperti orangtuanya, karena ingin
mendalami agama islam dan menyebarkannya di lingkungan keratonnya. Nama ini
dipilih karena Sang Prabu orang arif bijaksana dan adil sehingga kerajaannya
makmur mirip seperti Nabi Sulaiman a.s, jadi seperti mendapat cahaya Nabi
Sulaiman. Setelah menjadi seorang muslim
yang taat, Prabu Tejangkara Jayawardhana/ Nur Sulaiman sangat tekun mendalami
dan belajar sehingga menjadi seorang yang ahli dalam agama dan beliau
mengajarkan kepada para punggawa dan rakyatnya.
Perubahan kebiasaan yang sangat drastis yang terjadi pada Sang Prabu ini
menyebabkaan para punggawa keraton dan rakyatnya lebih mengenalnya sebagai Kyai
daripada sebagai Sang Prabu raja mereka, sehingga sejak saat itu panggilannya
lebih dikenal sebagai Kyai Nur Sulaiman
dan nama kerajaan dirubah menjadi Kerajaan
Singaparma. Lokasinya disekitar kota Singosari saat ini.
Dari
pernikahannya dengan Nyai Siti Aisyah,
Kyai Nur Sulaiman dikaruniai seorang anak dan diberi nama Raden Santang, hidup dari 1321 – 1521
atau selama 190 tahun. Naik bertahta
dari tahun 1351 – 1521 dan menjadi raja yang terakhir di kerajaan Singaparma. Memiliki
anak laki-laki menjadi lengkap kebahagiaan Kyai
Nur Sulaiman beserta istrinya.
Mengingat dirinya seorang mualaf, Kyai
Nur Sulaiman dalam mendidik anaknya menjadi sangat tekun dan berharap
anaknya kelak menjadi pengganti dirinya dan memiliki ilmu agama yang lebih
dalam lagi. Sebagaimana harapan orang tuanya Raden Santang pun akhirnya menjadi orang yang berilmu dalam agama
dan melanjutkan kebiasaan orang tuanya mengajarkan ilmu agama kepada rakyatnya
yang belum masuk islam, selain juga mewarisi ilmu kesaktian orangtuanya. Sebelum Kyai
Nur Sulaiman wafat, menikahkan Raden
Santang dengan seorang perempuan yang mirip dengan istrinya, yaitu seorang
yang memiliki kebaikan dalam agamanya yang bernama Nur Azizah. Sehingga setelah
menikah suami istri ini juga menjadi orang yang alim dalam mengajarkan agama
kepada orang-orang disekitarnya sehingga keduanya dikenal dengan panggilan Kyai Raden santang da Nyai Nur (yang
lebih dikenal dengan panggilan Ustadzah
Nur).
Dari perkawinan Kyai Raden Santang dengan Ustz.Nur ini
dikarunia seorang anak bernama Raden
santang Kahuripan (hidup tahun 1501 – 1601). Nama ini adalah nama yang dipesankan oleh
orang tuanya Kyai Nur Sulaiman, agar
kelak anaknya diberi nama yang sama dengan tambahan Kahuripan, karena nama
Kahuripan semakna dengan kata Al Kautsar, sebuah telaga Nabi saw di Syurga yang
dapat memberikan kehidupan kembali dan memiliki kebaikan yang banyak untuk
siapa saja yang mendatanginya. Raden Santang Kahuripan setelah berusia
dewasa sekitar usia 20 tahunan dijodohkan dengan seorang anak perempuan
pembesar di wilayah Singaparma tokoh hindu, akan tetapi Raden Santang Kahuripan tidak mau dan dianggap membantah orangtua
sehingga diusir keluar dari Keraton
Garuda Wiru dan diminta jangan kembali sebelum mengerti apa kesalahan yang
dilakukannya. Rupanya Raden Santang Kahuripan tidak mengerti
perjodohan yang dilakukan orang tuanya dimaksudkan agar islam lebih cepat dapat
diterima oleh masyarakat ketika terdapat keluarga pembesar agama hindu sudah
memeluk islam.
Keluarnya Raden Santang Kahuripan diiringi oleh
beberapa puluh prajurit dengan membawa bekal sejumlah harta kerajaan sebagai
bekal selama keluar dari keraton dan tidak tahu kapan harus kembali. Raden
Santang Kahuripan berkelana kesana kemari selama 3,5 (tiga setengah) tahun
dan sampai di daerah Banyumas. Pada
saat di wilayah banyumas Raden Santang bertemu dengan seorang lelaki setengah
baya yang sangat bijak dan terlihat sangat alim, lelaki ini bernama Hasan Sadikin. Hasan Sadikin
merupakan pendatang dari daerah Pulau Dewata atau Pulau Bali saat itu berusia
40 tahun. Beliau hijrah karena tidak
betah dan tidak nyaman dengan adat keluarganya terkait dengan perkawinan yang
harus mengikuti tradisi keyakinan leluhurnya.
Pada saat peristiwa akan dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya
inilah beliu hijrah ke Banyumas dan
mengenal islam di sini. Setelah beliau
masuk islam keinginannya belajar sangat kuat disamping seperti menemukan telaga
kehidupan yang baru beliau merasa harus beramal sebanyak-banyaknya karena
selama ini memiliki keyakinan yang sangat berbeda. Karena kekhusyukannya dan sifat tawadhunya
beliau menjadi orang shaleh yang arif bijaksana dan linuwih.
Hasan Sadikin
adalah nama setelah masuk islam yang
sebelumnya bernama Laode Sudarta.
Bertemunya Raden Santang Kahuripan dengan Hasan Sadikin dengan latar belakang
cerita nya menjadikan kesedihan tersendiri bagi Raden Santang Kahuripan karena menjadi teringat orangtuanya. Kisah
Hasan Sadikin ini mirip dengan dirinya, sehingga Raden Santang Kahuripan merasa
senasib dan dari lelaki setengah baya inilah Raden Santang Kahuripan banyak
belajar tentang kehidupan, tentang islam lebih dalam lagi.
Di daerah
Banyumas ini Raden Santang Kahuripan
bertemu dengan seorang gadis yang memikat hatinya lalu dinikahinya. Selanjutnya hijrah ke daerah Wangon untuk berbulan madu dan menetap
di sana dengan membuat istana kecil (tempatnya sekarang menjadi terminal
Wangon). Sementara itu Hasan Sadikin
semakin dikenal dengan keilmuannya tentang agama maka beliau dikenal dengan Kyai Hasan Sadikin, yang sekaligus
sebagai penasehat spiritual Raden Santang Kahuripan. Suatu hari Kyai Hasan
Sadikin menemukan seorang anak kecil berumur sekitar 6 (enam) tahun sedang
menangis di pinggir jalan tidak ada orang tuanya atau siapa-siapa. Kondisi anak
ini sangat kurus dan lusuh, kulitnya yang menghitam menambah kesan sangat kotor
tidak terurus, membuat Kyai Hasan sangat
iba melihatnya, lalu dibawanya anak kecil tersebut pulang dan diasuhnya hingga
dewasa. Cukup lama Kyai Hasan Sadikin
merenungkan mencari nama yang cocok buat anak yang malang ini, dan akhirnya
anak tersebut diberi nama Ali Samsuzen. Masa
kecil Ali Samsuzen dikenal sangat nakal, lincah dan susah diatur, dengan sangat
sabar dan telaten Kyai Hasan Sadikin mendidik pelan-pelan Ali Samsuzen. Seiring dengan usianya yang semakin dewasa
Ali Samsuzen semakin mengerti kehidupan dan banyak belajar ilmu dari Kyai Hasan
Sadikin termasuk ilmu kanuragan beladiri.
Ketika dewasa Ali Samsuzen senang membantu orang lain yang sedang
kesusahan dan mendapat masalah serta sangat hormat dan penurut kepada
orang-orang yang dituakan, tetapi ada salah satu sifat yang kurang disukai Kyai
Hasan Sadikin yaitu jika sudah marah susah dikendalikan, apalagi jika bertemu
dengan begal, perampok atau jambret, dengan kesaktian beladirinya mudah sekali
mengalahkan para begal, setelah menolong orang yang dibegal maka Ali Samsuzen
akan menghajar begal tanpa henti sampai sekarat kalau tidak dihentikan oleh
Kyai Hasan Sadikin cukup dengan menyentuhnya dengan ujung jari ke kepala Ali
Samsuzen maka langsung pingsan.. Ketika
menghajar orang-orang yang berlaku jahat Ali Samsuzen sangat marah dan seperti
sedang melampiaskan dendam, hal ini karena selalu teringat bagaimana kedua
orang tuanya meninggal karena dibunuh secara keji oleh para begal ketika sedang
berjalan-jalan plesiran dan meninggalkan dirinya hidup terlunta-lunta tidak
makan berhari-hari sebelum ditemukan oleh Kyai Hasan Sadikin. Dari sifat sangat
patuh dan hormat serta cepat dalam belajar maka oleh Raden Santang Kahuripan
diangkat menduduki jabatan Patih, dan selanjutnya dikenal dengan Patih Ali Samsuzen. Ketika Belanda sudah mulai masuk wilayah
Banyumas sekitarnya termasuk ke Wangon, Raden Santang Kahuripan mengungsikan
keluarganya kembali ke banyumas dan Raden Santang Kahuripan beserta Patihnya
disertai penasehat spiritualnya KH.
Hasan Sadikin hijrah meninggalkan Istana Wangon untuk mencari
persembunyian, baik untuk pasukan kerajaannya maupun harta benda pusaka
kerajaan dibawa serta untuk menjaga eksistensi keberadaan Keraton Wangon.
Pilihan pertama
adalah Desa Jati yang nantinya
dikenal dengan Desa Pulo Jati dan selanjutnya berubah menjadi Desa Purwojati (hutan jati) . Hutan jati ini awal mula ditanam oleh KH. Hasan Sadikin dikarenakan daerah
ini sebelumnya sering terjadi banjir dan tanah longsor karena tidak ada hutan
atau pohon-pohon besar. Hutan jati ini karena sangat lebat dan luas diantara tanah rawa, sawah, sungai dan perbukitan kecil sehingga terlihat seperti sebuah Pulo(baca : pulau) dan setelah banyak yang sering keluar masuk hutan ini sebutannya berubah menjadi Purwo (baca : hutan). Daerah ini juga
dahulu dikenal banyak dihuni oleh binatang buas seperti harimau, banyak jenis
ular yang besar dan berbisa, kelelawar, kucing hutan, kijang/menjangan, beruang
dan berbagai jenis burung yang bersarang di daerah ini. Selain itu penghuni daerah ini masih sangat
takut pergi jauh-jauh karena selain banyak binatang buas dan berbisa, juga
dikenal daerah yang angker karena banyak demit dan siluman yang mengganggu yang
suka menculik orang.
Setelah
menemukan tempat yang aman dan cocok untuk menyembunyikan harta kerajaan, anak
dan selanjutnya tempat tersebut ditutup dan dijaga oleh salah satu orang
prajuritnya, yang sebelumnya anak dan istrinya diungsikan ke Banyumas
kembali. Tugas prajurit tadi adalah
selain menjaga juga membersihkan tempat tersebut. Bangunan ini sangat kokoh,
pintu masuk tempat ini cukup besar dan memiliki lorong yang cukup panjang,
disamping lorong ini terdapat air terjun dari sumber air yang tidak pernah mati
yang disekelilingnya dipenuhi dengan tumbuhan-tumbuhan rambat yang menambah
indah suasana. Air terjun tersebut di bagian bawahnya membentuk kolam yang
sangat jernih airnya dan di dalam kolam terdapat banyak sekali bermacam-macam
ikan yang dapat dijadikan santapan yang lezat.
Setelah melewati
lorong yang cukup panjang baru ketemu dengan bangunan utama aula tempat
tersebut, aula ini dilengkapi dengan bangunan-bangunan pendukung yang menambah
indah suasana ruangan, meskipun lorong dan bangunan aula tersebut kelihatan
tersembunyi akan tetapi terdapat ventilasi udara dan cahaya yang dapat masuk
sehingga kehangatan dan penerangan ruangan tetap terjaga.
Di dalam
aula atau bangunan utama inilah Raden Santang Kahuripan menyimpan harta
kerajaannya. Disebelah barat daya dan
utara bangunan utama terdapat ruangan lagi yang masing-masing berbentuk lorong
yang sangat panjang. Bangunan sebelah
barat daya ini tempat bersantai atau berrelaksasi karena banyak dipenuhi
tumbuh-tumbuhan dan taman bunga-bunga yang indah, salah satunya adalah berbagai
macam bunga anggrek yang menawan dan terdapat beberapa binatang yang senang
ditempat basah dan berlumpur. Sedang
bangunan yang di sebelah utara ini area untuk pasukannya, meskipun sebagian
juga ada di sebelah barat daya. Area
sebelah utara juga digunakan jika ingin mencari hewan-hewan liar untuk santapan
maka menggunakan area sebelah utara. Baik bangunan yang disebelah barat daya
maupun yang di sebelah utara, keduanya juga berfungsi untuk jalan keluar untuk
kondisi darurat jika terdapat bahaya yang akan menyerang bangunan tersebut.
Setelah semuanya
dirasakan sudah aman, baik keluarganya maupun harta kerajaannya, Raden Santang Kahuripan bermusyawarah
dengan Patih Ali Samsuzen, punggawanya
serta penasehat spiritualnya Kyai Hasan
Sadikin dan menyampaikan niat ingin menjadi orang biasa saja, beliau ingin
hidup menyendiri menjadi rakyat jelata, hidup dari jerih payah keringat
sendiri, karena selama ini beliau merasa semuanya sudah disiapkan oleh orang
tuanya segala sesuatunya sehingga tidak merasakan susahnya mencari sesuap makan
dan seteguk minuman. Beliau ingin
menjalani sisa hidupnya dengan keikhlasan dan ketenangan agar khusyu’ dalam
bermunajat dan merenungi kehidupannya agar semakin dekat dengan Sang Khaliq
Alloh swt. Untuk itulah anak istrinya
diminta untuk kembali ke keluarganya di Banyumas. Sedangkan daerah purwojati di serahkan ke
patihnya Patih Ali Samsuzen yang
merupakan anak asuh dari KH. Hasan
Sadikin. Sejak saat itu Patih
Samsuzen menjadi Kepala Desa yang pertama di Desa Purwojati dan dikenal dengan
julukan Ki Ali.
Setelah
keputusan telah diambil, Raden Santang
kahuripan memerintahkan prajuritnya untuk menutup bangunan penyimpanan
harta kerajaan dan disembunyikan. Sedangkan para prajurit kerajaan
dipersilahkan untuk mengikuti anaknya atau istrinya di Banyumas. Setelah
prajurit yang ditugaskan menjaga menyampaikan bahwa ada beberapa orang yang
ingin mencuri harta kerajaan, selanjutnya Raden
Santang kahuripan meminta pendapat dan bantuan Kyai Hasan Sadikin bagaimana baiknya. Selanjutnya Kyai Hasan Sadikin bermunajat kepada Alloh Swt untuk membuat
penjagaan harta kerajaan yang sangat bernilai, seperti emas permata, batu
mulia, mustika, benda-benda seni seperti hasil karya pewayangan dan peralatan
perang seperti tombak dan panah.
Hasil dari
munajat, yang dilakukan Kyai Hasan
Sadikin adalah pertama menutup gerbang utama dengan pintu yang sangat kokoh
dan kuat, sehingga jika digeser atau diangkat lima puluh orang pun sepertinya
kewalahan, begitu juga pintu dari bangunan sebelah barat daya dan utara diberi
pintu yang sangat kokoh, selanjutnya di dalam bangunan utama Kyai hasan Sadikin dengan kesaktiannya
menancapkan sebuah tongkat yang berfungsi untuk mengumpulkan semua jenis ular,
baik yang besar-besar maupun yang berbisa untuk berkumpul di dalam ruangan
utama agar menjaga harta kerajaan tersebut. Akan tetapi tongkat ini akan menjadi
4 (empat) buah ketika ada orang yang memasuki ruang utama dan jika salah cabut
maka seluruh ular akan menyerang dengan ganasnya. Jika terdapat orang yang bisa
mengambil dengan tepat tongkat yang asli maka ular-ular tersebut dapat
disingkirkan dengan mudah mengikuti arah tongkat tersebut. Tidak hanya itu di
antara tumpukan harta kekayaan kerajaan tersebut ditempatkan sebuah batu petuah
nan langka tidak tahu datangnya dari planet mana. Batu tersebut disimpan dalam kotak kayu kecil
dan jika dibuka sembarangan terlebih terkena cahaya matahari maka tidak hanya
yang membuka tetapi orang-orang di sekitarnya dapat mati mendadak atau langsung buta matanya tidak bisa melihat
karena cahaya yang dihasilkan sangat merusak kornea mata. Kotak kayu batu
bertuah ini khusus dijaga oleh makhluk semacam peri yang bentuknya
bermacam-macam, ada yang memiliki bentuk seperti manusia kuda, manusia hiu, dan
binatang lainnya, sedangkan yang menyerupai manusia ada yang bersayap ada yang
tidak dengan memegang berbagai macam senjata tajam. Makhluk peri ini sangat
kecil, lebih kecil dari semut, sehingga untuk yang tidak memiliki sayap, maka
menaiki semut terbang. Apabila ada orang
yang mau mengambil batu bertuah maka dengan sekejap seluruh makhluk peri ini
akan menyerang tanpa disadari oleh orang tersebut sehingga dalam beberapa detik
saja langsung mati karena banyak yang masuk ke jalan darah masuk lewat
pori-pori kulit dan bergerak dengan cepat mengikuti aliran darah, sehingga pada
saat sampai bagian otak di kepala secepat kilat dirusaknya otak orang tersebut
dan akan mati mendadak.
Ular-ular yang
di dalam goa ini memiliki kehidupan yang sangat teratur tidak bedanya seperti
sebuah kerajaan, dengan bangunan tempat tumpukan harta sebagai istananya dan
tempat kotak kayu batu bertua sebagai singgasana ratu ular yang ada di
sana. Yang menjadi ratu adalah jenis
ular Boa dengan ukuran badannya yang sangat besar dan terdapat tiara di atas
kepalanya yang terbuat dari mustika dirinya, karena sudah berusia sangat tua
dan sanggup menelan manusia secara utuh dengan sekejap. Sedangkan yang menjadi para punggawa adalah
berbagai ular jenis ular sanca. Meskipun
tidak sebesar sang Ratu Ular tetapi ukuran para ular sanca ini terbilang sangat
besar dan yang menjadi prajuritnya adalah berbagai jenis ular berbisa seperti
ular welang, ular weling, ular tanah dan lainnya. Sedangkan rakyatnya terdiri dari ribuan
berbagai macam ular lainnya. Mereka
semua taat dan patuh kepada Sang Ratu, jika ada yang keluar tanpa izin maka
langsung dihukum. Untuk ular sanca
punggawa yang menjadi panglima memiliki ciri khusus mengenakan semacam kalung
batu sakti yang memiliki berwarna merah campur hijau, kuning, biru dan
lainnya. Kalung ini akan diserahkan
kepada punggawa lainnya manakala yang diberi amanah tidak dapat menjaganya.
Diujung bangunan
sebelah utara dengan kesaktiannya Kyai
Hasan Sadikin memanggil binatang-binatang buas seperti harimau jawa untuk
mendiami area tersebut sehingga tidak ada yang dapat masuk lewat area pintu
utara. Area pintu barat daya dibuat susah
untuk dimasuki karena kondisi area tanah yang berbahaya dan banyak tumbuhan
beracun yang ditanam.
Adapun diluar
sebelah timur untuk menghindari orang-orang yang datang dari arah timur baik
yang sedang mencari hasil hutan, binatang buruan maupun yang hendak ada
keperluan ke daerah purwojati. Daerah
ini diapit dua bukit sehingga terdapat lembah yang cukup luas. Di lembah inilah Kyai Hasan Sadikin membuat benteng petir yaitu dengan menempatkan
dan menyusun batu sinar petir yang berwarna hijau langit dengan teknik susunan
tertentu untuk memanggil petir, sehingga dilembah ini sering terjadi petir
apalagi jika hujan lebat.
Selain dua pintu
rahasia yang cukup besar di bagian barat daya dan utara, masih terdapat dua
pintu rahasia lagi yang sangat kecil yang berada di bagian selatan dan
timur. Karena kecilnya pintu ini maka
hanya cukup dilewati dengan cara merayap untuk bisa sampai pada bagian bangunan
sebelah luar.
Pada saat Raden Santang Kahuripan sedang
menjalani sebagai orang biasa, beliau bertemu dengan seorang anak menjelang
remaja yatim piatu yang sedang merantau dari daerah Borneo atau Sumatera
yang bernama Abu Sidik, dari anak
inilah Raden Santang Kahuripan belajar
bagaimana menjalani hidup sebagai rakyat jelata, yang kemudian anak yatim piatu
ini diangkat anak oleh Raden Santang
Kahuripan dan namanya menjadi Abu
Sidik Kahuripan. Kepada anak
angkatnya ini Raden Santang Kahuripan
juga mengajarkan ilmu tata negara, keprajuritan dan kadigdayan lainnya,
sedangkan masalah keagamaan belajar dari Kyai
Haji Hasan Sadikin. Pada saat Raden
Santang Kahuripan menjalani hidup sebagai rakyat biasa, Kyai Haji Hasan Sadikin membuka tempat pengajian di padukuhan
purwojati (sekarang komplek pasar lama purwojati).
Abu Sidik Kahuripan
ini selanjutnya mengembangkan ilmu mengolah besi atau baja di sekitar daerah
gentawangi dan tinggar wangi, karena keahliannya itulah Abu Sidik Kahuripan
mendapat gelar Mpu, sehingga namanya lebih dikenal dengan sebutan Mpu Kahuripan. Mpu
Kahuripan membina rumah tangga hingga memiliki keturunan dan setelah
usianya semakin tua, Mpu Kahuripan
menghijrahkan keluarganya ke daerah asalnya yaitu Borneo atau Sumatra. Hal ini dilakukan karena Mpu Kahuripan menginginkan sisa hidupnya agar dapat fokus beribadah
kepada Alloh SWT sekaligus membalas jasa orang tua angkatnya dengan menjaga Raden Santang Kahuripan yang sudah tua
renta. Raden Santang Kahuripan meninggal pada usia 100 tahun, sedangkan Kyai
Haji hasan Sadikin meninggal dalam usia 120 tahun. Keduanya di makamkan di atas
puncak pesanggrahan Desa Purwojati Grumbul karang Duren, yang sekarang dikenal
dengan tempat Pertapan Karang Duren karena
sering digunakan bertapa oleh orang-orang setelahnya. Demikian juga dengan Mpu
Kahuripan setelah meninggal dikubur di sekitar Pesanggrahan ini.
Dikarenakan
ketiga orang ini memiliki kesaktian yang linuwih atau mendapat karomah dari
Alloh SWT, maka kuburnya pun memiliki daya kekuatan magis yang kuat sehingga
banyak orang mencari kesaktian, pesugihan maupun wangsit disekitar kuburan
mereka. Untuk menghindari hal-hal yang
tidak diinginkan kuburan mereka dipindah oleh Patih Ali Samsuzen yang sudah
menjadi Ketua Kampung / Kepala Desa Purwojati dan para abdinya yang setia. Pertama-tama yang dipindahkan adalah makam
Kyai Haji Hasan Sadikin, sebulan kemudian makam Raden Santang Kahuripan dan
pada saat akan memindahkan makam Mpu Abu Sidik Kahuripan sebulan kemudian
ternyata sudah ada yang mencuri batu nisannya karena dilihat memiliki kekuatan
kesaktian, sehingga para abdinya susah menemukan kuburannya karena di
sampingnya masih ada beberapa kuburan yang lain, sehingga sampai saat ini
kuburan Mpu Kahuripan masih berada di puncak Pesanggrahan Karang Duren.
Salah satu
bentuk kesaktian Mpu Kahuripan
adalah mampu membuat peralatan perang atau senjata seperti golok, pedang dan
lainnya dalam sehari bisa membuat sampai beberapa buah hanya dengan kekuatan
tangannya, meskipun dibuat juga tungku pembakaran pengolahan besi dan baja.
Anak keturunan
dari Raden Santang Kahuripan sampai saat ini masih ada di Grumbul Karang Duran
Desa Purwojati Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Silsilah
keturunannya yaitu, Raden Santang Kahuripan memiliki anak bernama Kyai
Sulaiman, Kyai Sulaiman memiliki anak bernama Nyai Rukiyah Warnanegara/Warna
Alam, Nyai Rukiyah Warnanegara/warna Alam memiliki anak bernama Ustadzah Putri
Daninegara, Ustadzah Putri Daninegara memiliki anak bernama Nyai Rukiyah
Walinegara, Nyai Rukiyah Walinegara memiliki anak bernama Ustadzah Winunegara
yang bersuamikan Kyai Windunegara dari Wangon Banyumas, Ustadzah Winunegara
memiliki anak bernama Nyai Rakem Sanmartha, Nyai Warkem Sanmartha memiliki
anak bernama Nyai Rukiyah yang diperistri oleh Kyai S.Moch. Sjaichan dan memiliki 12 anak, satu meninggal masih kecil. Anak-anaknya
bernama : Suharto, Zubaedah Suharti, Zaenab Nuningsih, A.Khairul Zubaer, Sadat Nurkhasanah, Manis
(almh.), Basirun Abbas, Yasin Nuntoro, Raras Wuri Miswandaru, Sarifudin Joko
Wasono, Prawoto Torik Masluki dan Laeli Puji Astuti.
Suatu saat nanti mudah-mudahan dari
keturunan Raden Santang Kahuripan ini ada yang dapat memanfaatkan harta
kekayaan yang masih tersimpan rapih dengan benar dan amanah untuk kepentingan
umat , agama dan bangsa indonesia

.





1 komentar:
Casino Junket (JTHub) - Mississippi casinos and sports
Casino 통영 출장샵 Junket (JTHub) - 제주 출장마사지 Mississippi casinos and sportsbook, 의왕 출장샵 poker, 안동 출장샵 blackjack, craps, live dealer, table 이천 출장안마 games, restaurants.
Posting Komentar