thi 2018 ~ esjewe

Halaman

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
seorang pembelajar yang ingin bermanfaat buat orang lain

Family


Cari Blog Ini

adakah tapak kebaikan dalam jejak kita

banyak langkah yang sudah kita buat, banyak jejak pula telah tercipta, orang lain hanya akan membaca sisa-sisa bekas tapak kita, ada yang menenangkan orang-orang disekitarnya, ada yang membu

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 28 Mei 2018

Silsilah Bani Kahuripan


Kerajaan Singaparma/ Mojopura
(Hikayat Raden Santang Kahuripan)


Kerajaan Mojopura yang terletak di daerah Jawa Timur merupakan sebuah kerjaan yang berdiri tahun 1057 masehi, sebelum Kerajaan Jenggala dan Kediri serta Singosari.  Letaknya di sekitar Singosari sekarang ini. Rajanya bernama Prabu Tejalengkara 1057 bertahta selama 4 (empat) tahun.  Setelah wafat digantikan anaknya dan menjadi raja yang ke dua yaitu Prabu Tejangkara I bertahta selama 14 tahun dari tahun 1061 – 1075 dan meninggal karena sakit digantikan oleh anaknya Prabu Tejangkara II, hidup dari tahun 1035 – 1165 (berusia 200 th), ketika naik tahta berusia 40 tahun atau tahun 1075. Setelah meninggal digantikan oleh anaknya Prabu Tejangkara Jayawardhana (Tejangkara III) hidup tahun 1150 – 1351 (berusia 201 th). Naik tahta pada usia 15 tahun atau pada tahu 1165, dengan keratonnya yang megah bernama Keraton Garuda Wiru.  Keraton ini dipenuhi dengan hiasan emas di setiap sudut keratonnya, menambah wibawa dan kemewahan bangunan Keraton Garuda Wiru. Sebuah keraton dengan ciri khas sebuah Patung Burung Garuda yang sangat besar berwarna biru sedang mengembangkan sayapnya, ditempatkan di gerbang keraton.  Lambang garuda wiru ini bukan asal-asalan karena Prabu Tejangkara Jayawardhana  memiliki kesaktian yang dapat berubah menjadi burung garuda yang gagah perkasa dengan ukuran yang sangat besar.
Kerajaan Mojopura merupakan kerajaan yang makmur dan rakyatnya merasa tentram dalam kehdupannya sehari-hari karena memiliki raja yang arif bijaksana dan berlaku adil. Prabu Tejangkara Jayawardhana memiliki kebiasaan berkelana keluar dari keratonnya untuk melihat kondisi rakyatnya secara dekat dengan dikawal oleh para punggawanya dengan membawa perbekalan secukupnya, apakah ada rakyatnya yang sedang kesusahan atau tidak untuk ditolongnya.  Salah satu komoditi yang dihasilkan dari wilayah Kerajaan  Mojopura ini adalah hasil bumi dan kebun, selain itu kebiasaan rakyatnya juga memelihara ayam dan kambing.  Dari hasil pertanian, perkebunan maupun ternaknya banyak yang dibawa keluar wilayah kerajaan, sehingga banyak yang menjadi pedagang, baik pedagang di dalam negeri maupun menjadi pedagang ke luar negeri Kerajaan Mojopura.
Disisi lain, para lelaki di kerajaan ini juga rajin melatih ilmu kanuragan selain untuk menjaga wilayahnya juga untuk bekal jika bepergian ke luar  ketika ingin melancong atau berdagang.  Keramaian di pusat kota Singaparma ini juga menjadi perhatian orang-orang dari wilayah lain, sehingga banyak sekali pengunjung dari wilayah kerajaan lain yang ingin berdagang atau membeli kebutuhan hidup.
Dari kebiasaan Prabu Tejangkara Jayawardhana berkeliling di wilayah kerajaannya, suatu hari Sang Prabu melihat seorang perempuan yang berpakaian lain dari yang lain. Pakaian yang bukan biasa dipakai oleh rakyatnya yang terbiasa terbuka bagian atasnya dan untuk para wanitanya dengan semacam kemben saja, akan tetapi perempuan ini mengenakan pakaian yang tertutup seluruh badannya dengan selembar kain menutup kepala dengan diselempangkan dari samping ke belakang, wanita ini berkerudung.  Pemandangan yang janggal ini sangat menarik perhatian Sang Prabu Tejangkara Jayawardhana, setelah diamati cukup lama gerak gerik wanita ini lalu didekati dan ditanya.  “ Maaf nyai, nyai ini siapa? Kok sangat berbeda cara berpakaiannya dengan rakyat disini? Tanya Sang Prabu dengan hati-hati penuh penasaran.  Wanita berkerudung yang semakin kelihatan anggun dengan kerudungnya ini menjawab “ Nama saya Siti Aisyah, saya seorang muslim” jawab perempun berkerudung ini. “ Muslim itu apa?” lanjut sang Prabu penasaran. “ keyakinan keimanan saya islam, agama saya islam” kembali siti Aisyah menjawab. Nama ini dianggap aneh karena Kerajaan Singaparma merupakan kerajaan hindu.  Setelah dijelaskan sedikit tentang agama islam, Sang Prabu mengucapkan terima kasih dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman seperti biasa dan sebagai rasa hormat dengan perempuan yang baru dikenalnya ini, akan tetapi dia kaget karena Siti Aisyah tidak menyambut tangannya tetapi hanya menyatukan telapak tangan di depan dada. Sang Prabu bertanya kembali “ Kenapa?” , “ maaf, tuan bukan muhrim saya” jawab Siti Aisyah dengan halus. “ muhrim? Apa itu muhrim?” keheranan sang Prabu dengan jawaban dan perilaku perempuan ini.   Setelah dijelaskan apa itu muhrim, Sang Prabu semakin tertarik dengan Siti Aisyah dan menyatakan ingin belajar lebih banyak lagi dan oleh Siti Aisyah diantarkan kepada yang lebih tahu yaitu orang tuanya dan gurunya.  Rupanya kebiasaan rakyatnya yang bepergian keluar kerajaan untuk berdagang, tanpa disadari telah terjadi persinggungan budaya dan keyakinan dari berbagai kerajaan lainnya dan salah satunya adalah keluarga Siti Aisyah.
Setelah Prabu Tejangkara Jayawardhana mengerti apa itu islam maka beliau masuk islam dan menikahi Siti Aisyah, seorang perempuan yang telah menunjukan jalan hidayahnya.  Nama Prabu Tejangkara Jayawardhana diberi nama panggilan baru Nur Sulaiman.  Prabu Tejangkara Jayawardhana atau Raja Nur Sulaiman bermunajat kepada Yang Kuasa untuk minta dipanjangkan umurnya seperti orangtuanya, karena ingin mendalami agama islam dan menyebarkannya di lingkungan keratonnya. Nama ini dipilih karena Sang Prabu orang arif bijaksana dan adil sehingga kerajaannya makmur mirip seperti Nabi Sulaiman a.s, jadi seperti mendapat cahaya Nabi Sulaiman.  Setelah menjadi seorang muslim yang taat, Prabu Tejangkara Jayawardhana/ Nur Sulaiman sangat tekun mendalami dan belajar sehingga menjadi seorang yang ahli dalam agama dan beliau mengajarkan kepada para punggawa dan rakyatnya.  Perubahan kebiasaan yang sangat drastis yang terjadi pada Sang Prabu ini menyebabkaan para punggawa keraton dan rakyatnya lebih mengenalnya sebagai Kyai daripada sebagai Sang Prabu raja mereka, sehingga sejak saat itu panggilannya lebih dikenal sebagai Kyai Nur Sulaiman dan nama kerajaan dirubah menjadi Kerajaan Singaparma. Lokasinya disekitar kota Singosari saat ini.
Dari pernikahannya dengan Nyai Siti Aisyah, Kyai Nur Sulaiman dikaruniai seorang anak dan diberi nama Raden Santang, hidup dari 1321 – 1521 atau selama 190 tahun.  Naik bertahta dari tahun 1351 – 1521 dan menjadi raja yang terakhir di kerajaan Singaparma. Memiliki anak laki-laki menjadi lengkap kebahagiaan Kyai Nur Sulaiman beserta istrinya.  Mengingat dirinya seorang mualaf, Kyai Nur Sulaiman dalam mendidik anaknya menjadi sangat tekun dan berharap anaknya kelak menjadi pengganti dirinya dan memiliki ilmu agama yang lebih dalam lagi. Sebagaimana harapan orang tuanya Raden Santang pun akhirnya menjadi orang yang berilmu dalam agama dan melanjutkan kebiasaan orang tuanya mengajarkan ilmu agama kepada rakyatnya yang belum masuk islam, selain juga mewarisi ilmu kesaktian orangtuanya.  Sebelum Kyai Nur Sulaiman wafat, menikahkan Raden Santang dengan seorang perempuan yang mirip dengan istrinya, yaitu seorang yang memiliki kebaikan dalam agamanya yang bernama Nur Azizah.  Sehingga setelah menikah suami istri ini juga menjadi orang yang alim dalam mengajarkan agama kepada orang-orang disekitarnya sehingga keduanya dikenal dengan panggilan Kyai Raden santang da Nyai Nur (yang lebih dikenal dengan panggilan Ustadzah Nur).
Dari perkawinan Kyai Raden Santang dengan Ustz.Nur ini dikarunia seorang anak bernama Raden santang Kahuripan (hidup tahun 1501 – 1601).  Nama ini adalah nama yang dipesankan oleh orang tuanya Kyai Nur Sulaiman, agar kelak anaknya diberi nama yang sama dengan tambahan Kahuripan, karena nama Kahuripan semakna dengan kata Al Kautsar, sebuah telaga Nabi saw di Syurga yang dapat memberikan kehidupan kembali dan memiliki kebaikan yang banyak untuk siapa saja yang mendatanginya.  Raden Santang Kahuripan setelah berusia dewasa sekitar usia 20 tahunan dijodohkan dengan seorang anak perempuan pembesar di wilayah Singaparma tokoh hindu, akan tetapi Raden Santang Kahuripan tidak mau dan dianggap membantah orangtua sehingga diusir keluar dari Keraton Garuda Wiru dan diminta jangan kembali sebelum mengerti apa kesalahan yang dilakukannya.  Rupanya Raden Santang Kahuripan tidak mengerti perjodohan yang dilakukan orang tuanya dimaksudkan agar islam lebih cepat dapat diterima oleh masyarakat ketika terdapat keluarga pembesar agama hindu sudah memeluk islam.
Keluarnya Raden Santang Kahuripan diiringi oleh beberapa puluh prajurit dengan membawa bekal sejumlah harta kerajaan sebagai bekal selama keluar dari keraton dan tidak tahu kapan harus kembali.  Raden Santang Kahuripan berkelana kesana kemari selama 3,5 (tiga setengah) tahun dan sampai di daerah Banyumas. Pada saat di wilayah banyumas Raden Santang bertemu dengan seorang lelaki setengah baya yang sangat bijak dan terlihat sangat alim, lelaki  ini bernama Hasan Sadikin. Hasan Sadikin merupakan pendatang dari daerah Pulau Dewata atau Pulau Bali saat itu berusia 40 tahun.  Beliau hijrah karena tidak betah dan tidak nyaman dengan adat keluarganya terkait dengan perkawinan yang harus mengikuti tradisi keyakinan leluhurnya.  Pada saat peristiwa akan dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya inilah beliu hijrah ke Banyumas dan mengenal islam di sini.  Setelah beliau masuk islam keinginannya belajar sangat kuat disamping seperti menemukan telaga kehidupan yang baru beliau merasa harus beramal sebanyak-banyaknya karena selama ini memiliki keyakinan yang sangat berbeda.  Karena kekhusyukannya dan sifat tawadhunya beliau menjadi orang shaleh yang arif bijaksana dan linuwih.
Hasan Sadikin adalah nama setelah  masuk islam yang sebelumnya bernama Laode Sudarta. Bertemunya Raden Santang Kahuripan dengan Hasan Sadikin dengan latar belakang cerita nya menjadikan kesedihan tersendiri bagi Raden Santang Kahuripan karena menjadi teringat orangtuanya. Kisah Hasan Sadikin ini mirip dengan dirinya, sehingga Raden Santang Kahuripan merasa senasib dan dari lelaki setengah baya inilah Raden Santang Kahuripan banyak belajar tentang kehidupan, tentang islam lebih dalam lagi.
Di daerah Banyumas ini Raden Santang Kahuripan bertemu dengan seorang gadis yang memikat hatinya lalu dinikahinya.  Selanjutnya hijrah ke daerah Wangon untuk berbulan madu dan menetap di sana dengan membuat istana kecil (tempatnya sekarang menjadi terminal Wangon).  Sementara itu Hasan Sadikin semakin dikenal dengan keilmuannya tentang agama maka beliau dikenal dengan Kyai Hasan Sadikin, yang sekaligus sebagai penasehat spiritual Raden Santang Kahuripan. Suatu hari Kyai Hasan Sadikin menemukan seorang anak kecil berumur sekitar 6 (enam) tahun sedang menangis di pinggir jalan tidak ada orang tuanya atau siapa-siapa. Kondisi anak ini sangat kurus dan lusuh, kulitnya yang menghitam menambah kesan sangat kotor tidak terurus,  membuat Kyai Hasan sangat iba melihatnya, lalu dibawanya anak kecil tersebut pulang dan diasuhnya hingga dewasa.  Cukup lama Kyai Hasan Sadikin merenungkan mencari nama yang cocok buat anak yang malang ini, dan akhirnya anak tersebut diberi nama Ali Samsuzen. Masa kecil Ali Samsuzen dikenal sangat nakal, lincah dan susah diatur, dengan sangat sabar dan telaten Kyai Hasan Sadikin mendidik pelan-pelan Ali Samsuzen.  Seiring dengan usianya yang semakin dewasa Ali Samsuzen semakin mengerti kehidupan dan banyak belajar ilmu dari Kyai Hasan Sadikin termasuk ilmu kanuragan beladiri.  Ketika dewasa Ali Samsuzen senang membantu orang lain yang sedang kesusahan dan mendapat masalah serta sangat hormat dan penurut kepada orang-orang yang dituakan, tetapi ada salah satu sifat yang kurang disukai Kyai Hasan Sadikin yaitu jika sudah marah susah dikendalikan, apalagi jika bertemu dengan begal, perampok atau jambret, dengan kesaktian beladirinya mudah sekali mengalahkan para begal, setelah menolong orang yang dibegal maka Ali Samsuzen akan menghajar begal tanpa henti sampai sekarat kalau tidak dihentikan oleh Kyai Hasan Sadikin cukup dengan menyentuhnya dengan ujung jari ke kepala Ali Samsuzen maka langsung pingsan..  Ketika menghajar orang-orang yang berlaku jahat Ali Samsuzen sangat marah dan seperti sedang melampiaskan dendam, hal ini karena selalu teringat bagaimana kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh secara keji oleh para begal ketika sedang berjalan-jalan plesiran dan meninggalkan dirinya hidup terlunta-lunta tidak makan berhari-hari sebelum ditemukan oleh Kyai Hasan Sadikin. Dari sifat sangat patuh dan hormat serta cepat dalam belajar maka oleh Raden Santang Kahuripan diangkat menduduki jabatan Patih, dan selanjutnya dikenal dengan Patih Ali Samsuzen.  Ketika Belanda sudah mulai masuk wilayah Banyumas sekitarnya termasuk ke Wangon, Raden Santang Kahuripan mengungsikan keluarganya kembali ke banyumas dan Raden Santang Kahuripan beserta Patihnya disertai penasehat spiritualnya KH. Hasan Sadikin hijrah meninggalkan Istana Wangon untuk mencari persembunyian, baik untuk pasukan kerajaannya maupun harta benda pusaka kerajaan dibawa serta untuk menjaga eksistensi keberadaan Keraton Wangon.
Pilihan pertama adalah Desa Jati yang nantinya dikenal dengan Desa Pulo Jati dan selanjutnya berubah menjadi Desa Purwojati (hutan jati) .  Hutan jati ini awal mula ditanam oleh KH. Hasan Sadikin dikarenakan daerah ini sebelumnya sering terjadi banjir dan tanah longsor karena tidak ada hutan atau pohon-pohon besar.  Hutan jati ini karena sangat lebat dan luas diantara tanah rawa, sawah, sungai dan perbukitan kecil sehingga terlihat seperti sebuah Pulo(baca : pulau) dan setelah banyak yang sering keluar masuk hutan ini sebutannya berubah menjadi Purwo (baca : hutan). Daerah ini juga dahulu dikenal banyak dihuni oleh binatang buas seperti harimau, banyak jenis ular yang besar dan berbisa, kelelawar, kucing hutan, kijang/menjangan, beruang dan berbagai jenis burung yang bersarang di daerah ini.  Selain itu penghuni daerah ini masih sangat takut pergi jauh-jauh karena selain banyak binatang buas dan berbisa, juga dikenal daerah yang angker karena banyak demit dan siluman yang mengganggu yang suka menculik orang.
Setelah menemukan tempat yang aman dan cocok untuk menyembunyikan harta kerajaan, anak dan selanjutnya tempat tersebut ditutup dan dijaga oleh salah satu orang prajuritnya, yang sebelumnya anak dan istrinya diungsikan ke Banyumas kembali.  Tugas prajurit tadi adalah selain menjaga juga membersihkan tempat tersebut. Bangunan ini sangat kokoh, pintu masuk tempat ini cukup besar dan memiliki lorong yang cukup panjang, disamping lorong ini terdapat air terjun dari sumber air yang tidak pernah mati yang disekelilingnya dipenuhi dengan tumbuhan-tumbuhan rambat yang menambah indah suasana. Air terjun tersebut di bagian bawahnya membentuk kolam yang sangat jernih airnya dan di dalam kolam terdapat banyak sekali bermacam-macam ikan yang dapat dijadikan santapan yang lezat.
Setelah melewati lorong yang cukup panjang baru ketemu dengan bangunan utama aula tempat tersebut, aula ini dilengkapi dengan bangunan-bangunan pendukung yang menambah indah suasana ruangan, meskipun lorong dan bangunan aula tersebut kelihatan tersembunyi akan tetapi terdapat ventilasi udara dan cahaya yang dapat masuk sehingga kehangatan dan penerangan ruangan tetap terjaga.
Di dalam aula  atau bangunan utama inilah Raden Santang Kahuripan menyimpan harta kerajaannya.  Disebelah barat daya dan utara bangunan utama terdapat ruangan lagi yang masing-masing berbentuk lorong yang sangat panjang.  Bangunan sebelah barat daya ini tempat bersantai atau berrelaksasi karena banyak dipenuhi tumbuh-tumbuhan dan taman bunga-bunga yang indah, salah satunya adalah berbagai macam bunga anggrek yang menawan dan terdapat beberapa binatang yang senang ditempat basah dan berlumpur.  Sedang bangunan yang di sebelah utara ini area untuk pasukannya, meskipun sebagian juga ada di sebelah barat daya.  Area sebelah utara juga digunakan jika ingin mencari hewan-hewan liar untuk santapan maka menggunakan area sebelah utara. Baik bangunan yang disebelah barat daya maupun yang di sebelah utara, keduanya juga berfungsi untuk jalan keluar untuk kondisi darurat jika terdapat bahaya yang akan menyerang bangunan tersebut.

Setelah semuanya dirasakan sudah aman, baik keluarganya maupun harta kerajaannya, Raden Santang Kahuripan bermusyawarah dengan Patih Ali Samsuzen, punggawanya serta penasehat spiritualnya Kyai Hasan Sadikin dan menyampaikan niat ingin menjadi orang biasa saja, beliau ingin hidup menyendiri menjadi rakyat jelata, hidup dari jerih payah keringat sendiri, karena selama ini beliau merasa semuanya sudah disiapkan oleh orang tuanya segala sesuatunya sehingga tidak merasakan susahnya mencari sesuap makan dan seteguk minuman.  Beliau ingin menjalani sisa hidupnya dengan keikhlasan dan ketenangan agar khusyu’ dalam bermunajat dan merenungi kehidupannya agar semakin dekat dengan Sang Khaliq Alloh swt.  Untuk itulah anak istrinya diminta untuk kembali ke keluarganya di Banyumas.  Sedangkan daerah purwojati di serahkan ke patihnya Patih Ali Samsuzen yang merupakan anak asuh dari KH. Hasan Sadikin.  Sejak saat itu Patih Samsuzen menjadi Kepala Desa yang pertama di Desa Purwojati dan dikenal dengan julukan Ki Ali.
            Setelah keputusan telah diambil, Raden Santang kahuripan memerintahkan prajuritnya untuk menutup bangunan penyimpanan harta kerajaan dan disembunyikan. Sedangkan para prajurit kerajaan dipersilahkan untuk mengikuti anaknya atau istrinya di Banyumas. Setelah prajurit yang ditugaskan menjaga menyampaikan bahwa ada beberapa orang yang ingin mencuri harta kerajaan, selanjutnya Raden Santang kahuripan meminta pendapat dan bantuan Kyai Hasan Sadikin bagaimana baiknya.  Selanjutnya Kyai Hasan Sadikin bermunajat kepada Alloh Swt untuk membuat penjagaan harta kerajaan yang sangat bernilai, seperti emas permata, batu mulia, mustika, benda-benda seni seperti hasil karya pewayangan dan peralatan perang seperti tombak dan panah.
Hasil dari munajat, yang dilakukan Kyai Hasan Sadikin adalah pertama menutup gerbang utama dengan pintu yang sangat kokoh dan kuat, sehingga jika digeser atau diangkat lima puluh orang pun sepertinya kewalahan, begitu juga pintu dari bangunan sebelah barat daya dan utara diberi pintu yang sangat kokoh, selanjutnya di dalam bangunan utama Kyai hasan Sadikin dengan kesaktiannya menancapkan sebuah tongkat yang berfungsi untuk mengumpulkan semua jenis ular, baik yang besar-besar maupun yang berbisa untuk berkumpul di dalam ruangan utama agar menjaga harta kerajaan tersebut. Akan tetapi tongkat ini akan menjadi 4 (empat) buah ketika ada orang yang memasuki ruang utama dan jika salah cabut maka seluruh ular akan menyerang dengan ganasnya. Jika terdapat orang yang bisa mengambil dengan tepat tongkat yang asli maka ular-ular tersebut dapat disingkirkan dengan mudah mengikuti arah tongkat tersebut. Tidak hanya itu di antara tumpukan harta kekayaan kerajaan tersebut ditempatkan sebuah batu petuah nan langka tidak tahu datangnya dari planet mana.  Batu tersebut disimpan dalam kotak kayu kecil dan jika dibuka sembarangan terlebih terkena cahaya matahari maka tidak hanya yang membuka tetapi orang-orang di sekitarnya dapat mati mendadak atau  langsung buta matanya tidak bisa melihat karena cahaya yang dihasilkan sangat merusak kornea mata. Kotak kayu batu bertuah ini khusus dijaga oleh makhluk semacam peri yang bentuknya bermacam-macam, ada yang memiliki bentuk seperti manusia kuda, manusia hiu, dan binatang lainnya, sedangkan yang menyerupai manusia ada yang bersayap ada yang tidak dengan memegang berbagai macam senjata tajam. Makhluk peri ini sangat kecil, lebih kecil dari semut, sehingga untuk yang tidak memiliki sayap, maka menaiki semut terbang.  Apabila ada orang yang mau mengambil batu bertuah maka dengan sekejap seluruh makhluk peri ini akan menyerang tanpa disadari oleh orang tersebut sehingga dalam beberapa detik saja langsung mati karena banyak yang masuk ke jalan darah masuk lewat pori-pori kulit dan bergerak dengan cepat mengikuti aliran darah, sehingga pada saat sampai bagian otak di kepala secepat kilat dirusaknya otak orang tersebut dan akan mati mendadak.
Ular-ular yang di dalam goa ini memiliki kehidupan yang sangat teratur tidak bedanya seperti sebuah kerajaan, dengan bangunan tempat tumpukan harta sebagai istananya dan tempat kotak kayu batu bertua sebagai singgasana ratu ular yang ada di sana.  Yang menjadi ratu adalah jenis ular Boa dengan ukuran badannya yang sangat besar dan terdapat tiara di atas kepalanya yang terbuat dari mustika dirinya, karena sudah berusia sangat tua dan sanggup menelan manusia secara utuh dengan sekejap.  Sedangkan yang menjadi para punggawa adalah berbagai ular jenis ular sanca.  Meskipun tidak sebesar sang Ratu Ular tetapi ukuran para ular sanca ini terbilang sangat besar dan yang menjadi prajuritnya adalah berbagai jenis ular berbisa seperti ular welang, ular weling, ular tanah dan lainnya.  Sedangkan rakyatnya terdiri dari ribuan berbagai macam ular lainnya.  Mereka semua taat dan patuh kepada Sang Ratu, jika ada yang keluar tanpa izin maka langsung dihukum.  Untuk ular sanca punggawa yang menjadi panglima memiliki ciri khusus mengenakan semacam kalung batu sakti yang memiliki berwarna merah campur hijau, kuning, biru dan lainnya.  Kalung ini akan diserahkan kepada punggawa lainnya manakala yang diberi amanah tidak dapat menjaganya. 
Diujung bangunan sebelah utara dengan kesaktiannya Kyai Hasan Sadikin memanggil binatang-binatang buas seperti harimau jawa untuk mendiami area tersebut sehingga tidak ada yang dapat masuk lewat area pintu utara.  Area pintu barat daya dibuat susah untuk dimasuki karena kondisi area tanah yang berbahaya dan banyak tumbuhan beracun yang ditanam.
Adapun diluar sebelah timur untuk menghindari orang-orang yang datang dari arah timur baik yang sedang mencari hasil hutan, binatang buruan maupun yang hendak ada keperluan ke daerah purwojati.  Daerah ini diapit dua bukit sehingga terdapat lembah yang cukup luas.  Di lembah inilah Kyai Hasan Sadikin membuat benteng petir yaitu dengan menempatkan dan menyusun batu sinar petir yang berwarna hijau langit dengan teknik susunan tertentu untuk memanggil petir, sehingga dilembah ini sering terjadi petir apalagi jika hujan lebat.
Selain dua pintu rahasia yang cukup besar di bagian barat daya dan utara, masih terdapat dua pintu rahasia lagi yang sangat kecil yang berada di bagian selatan dan timur.  Karena kecilnya pintu ini maka hanya cukup dilewati dengan cara merayap untuk bisa sampai pada bagian bangunan sebelah luar.
Pada saat Raden Santang Kahuripan sedang menjalani sebagai orang biasa, beliau bertemu dengan seorang anak menjelang remaja yatim piatu yang sedang merantau dari daerah Borneo atau Sumatera yang bernama Abu Sidik, dari anak inilah Raden Santang Kahuripan belajar bagaimana menjalani hidup sebagai rakyat jelata, yang kemudian anak yatim piatu ini diangkat anak oleh Raden Santang Kahuripan dan namanya menjadi Abu Sidik Kahuripan.  Kepada anak angkatnya ini Raden Santang Kahuripan juga mengajarkan ilmu tata negara, keprajuritan dan kadigdayan lainnya, sedangkan masalah keagamaan belajar dari Kyai Haji Hasan Sadikin.  Pada saat Raden Santang Kahuripan menjalani hidup sebagai rakyat biasa, Kyai Haji Hasan Sadikin membuka tempat pengajian di padukuhan purwojati (sekarang komplek pasar lama purwojati).
Abu Sidik Kahuripan ini selanjutnya mengembangkan ilmu mengolah besi atau baja di sekitar daerah gentawangi dan tinggar wangi, karena keahliannya itulah Abu Sidik Kahuripan mendapat gelar Mpu, sehingga namanya lebih dikenal dengan sebutan Mpu Kahuripan.  Mpu Kahuripan membina rumah tangga hingga memiliki keturunan dan setelah usianya semakin tua, Mpu Kahuripan menghijrahkan keluarganya ke daerah asalnya yaitu Borneo atau Sumatra.  Hal ini dilakukan karena Mpu Kahuripan menginginkan sisa hidupnya agar dapat fokus beribadah kepada Alloh SWT sekaligus membalas jasa orang tua angkatnya dengan menjaga Raden Santang Kahuripan yang sudah tua renta. Raden Santang Kahuripan meninggal pada usia 100 tahun, sedangkan Kyai Haji hasan Sadikin meninggal dalam usia 120 tahun. Keduanya di makamkan di atas puncak pesanggrahan Desa Purwojati Grumbul karang Duren, yang sekarang dikenal dengan tempat Pertapan Karang Duren karena sering digunakan bertapa oleh orang-orang setelahnya. Demikian juga dengan Mpu Kahuripan setelah meninggal dikubur di sekitar Pesanggrahan ini.
Dikarenakan ketiga orang ini memiliki kesaktian yang linuwih atau mendapat karomah dari Alloh SWT, maka kuburnya pun memiliki daya kekuatan magis yang kuat sehingga banyak orang mencari kesaktian, pesugihan maupun wangsit disekitar kuburan mereka.  Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kuburan mereka dipindah oleh Patih Ali Samsuzen yang sudah menjadi Ketua Kampung / Kepala Desa Purwojati dan para abdinya yang setia.  Pertama-tama yang dipindahkan adalah makam Kyai Haji Hasan Sadikin, sebulan kemudian makam Raden Santang Kahuripan dan pada saat akan memindahkan makam Mpu Abu Sidik Kahuripan sebulan kemudian ternyata sudah ada yang mencuri batu nisannya karena dilihat memiliki kekuatan kesaktian, sehingga para abdinya susah menemukan kuburannya karena di sampingnya masih ada beberapa kuburan yang lain, sehingga sampai saat ini kuburan Mpu Kahuripan masih berada di puncak Pesanggrahan Karang Duren.
Salah satu bentuk kesaktian Mpu Kahuripan adalah mampu membuat peralatan perang atau senjata seperti golok, pedang dan lainnya dalam sehari bisa membuat sampai beberapa buah hanya dengan kekuatan tangannya, meskipun dibuat juga tungku pembakaran pengolahan besi dan baja.
Anak keturunan dari Raden Santang Kahuripan sampai saat ini masih ada di Grumbul Karang Duran Desa Purwojati Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Silsilah keturunannya yaitu, Raden Santang Kahuripan memiliki anak bernama Kyai Sulaiman, Kyai Sulaiman memiliki anak bernama Nyai Rukiyah Warnanegara/Warna Alam, Nyai Rukiyah Warnanegara/warna Alam memiliki anak bernama Ustadzah Putri Daninegara, Ustadzah Putri Daninegara memiliki anak bernama Nyai Rukiyah Walinegara, Nyai Rukiyah Walinegara memiliki anak bernama Ustadzah Winunegara yang bersuamikan Kyai Windunegara dari Wangon Banyumas, Ustadzah Winunegara memiliki anak bernama Nyai Rakem Sanmartha, Nyai Warkem Sanmartha memiliki anak bernama Nyai Rukiyah yang diperistri oleh Kyai S.Moch. Sjaichan dan memiliki 12 anak, satu meninggal masih kecil. Anak-anaknya bernama : Suharto, Zubaedah Suharti, Zaenab Nuningsih, A.Khairul Zubaer, Sadat Nurkhasanah, Manis (almh.), Basirun Abbas, Yasin Nuntoro, Raras Wuri Miswandaru, Sarifudin Joko Wasono, Prawoto Torik Masluki dan Laeli Puji Astuti.

            Suatu saat nanti mudah-mudahan dari keturunan Raden Santang Kahuripan ini ada yang dapat memanfaatkan harta kekayaan yang masih tersimpan rapih dengan benar dan amanah untuk kepentingan umat , agama dan bangsa indonesia.

Jumat, 25 Mei 2018

Fire Safety



TEORI API DAN FENOMENA KEBAKARAN

I.                    Proses terjadinya kebakaran
Api adalah suatu proses kimia yaitu proses oksidasi cepat yang menghasilkan panas dan cahaya.
Kebakaran adalah api yang tidak terkendali dan tidak dikehendaki karena dapat menimbulkan kerugian baik harta benda maupun korban jiwa.
Api dapat terbentuk jika terdapat keseimbangan tiga unsur yang terdiri dari bahan bakar, oksigen dan panas atau lazimnya dikenal dengan sebutan SEGITIGA API, sehingga bilamana salah satu unsur tersebut dihilangkan maka api akan padam.


 
                                    Oksigen                                   Panas









 



                                                      Bahan Bakar

Left-Right-Up Arrow:     PanasCloud Callout: Non Thermal
(Asap + Gas)
Berdasarkan teori segitiga api, suatu api kebakaran bisa terjadi, diperlukan sejumlah oksigen.  Suplai oksigen dari kebanyakan kebakaran dari udara disekitarnya.  Namun teori segiiga api hanya berlaku untuk bahan bakar berupa gas, sedang bahan bakar berupa cair dan padat diperlukan sumber energi atau panas untuk merubah fase dari cair atau padat menjadi gas.








Cloud Callout: Heat

Explosion 2: Fuel


Explosion 2: Oksigen


 
                                                              
                                                                                                                                                                                                       Panas        Hasil Reaksi     +     Panas + Nyala



 



Sesuai dengan teori segitiga api, api merupakan reaksi kimia, sehingga api akan timbul secara terus menerus jika terjadi berkelanjutan atau biasa disebut Teori Bidang Empat atau Tetrahedron, seperti gambar berikut :

                                                            Temperatur
                        Bahan Bakar
                                                                                    Bahan Pengoksidasi


 



            Rantai reaksi yang tak terputus

Pada saat proses pembakaran dari gabungan ketiga unsur tadi terjadi juga gas-gas lainnya seperti H2S1, NH3, HCN (sesuai dengan benda yang terbakar).  Hasil reaksi yang penting adalah atom bebas O dan H yang dikenal sebagai atom-atom radikal.  Keduanya membentuk Hydoksida Radikal (OH) dua molekul OH bisa pecah menjadi H2 dan O.
            Atom radikal O ini akan memberikan umpan terhadap rantai reaksi kimia dan membentuk api menjadi lebih besar lagi.
Proses pembakaran terdiri dari 2 cara :
1.      Dengan penyalaan (termasuk peledakan)
2.      Permukaan membara yang menimbulkan bara (tidak menyala), seperti rokok, arang, dll
·         Hydrogen        : 4% - 75%
·         Bensin             : 1% - 7%
·         LPG                  : 2% - 8%
·         Minyak Tanah : 1% - 8%




II.                  Istilah-istilah
A.     Titik Nyala (Flash Point)
Suhu terendah dimana suatu zat (bahan bakar), cukup mengeluarkan uap dan menyala (terbakar sekejap) bila diberi sumber panas yang cukup.  Titik Nyala antara suatu zat dengan zat lainnya berbeda-beda, seperti contoh :
·         Bensin                               : -38 °F
·         Minyak Tanah                   : 110 – 130 °F
·         Minyak solar (diesel)        : 125 – 150 °F

B.      Titik Bakar (Fire Point)
Suhu terendah dimana suatu zat (bahan bakar) cukup untuk mengeluarkan uap dan terbakar (menyala terus menerus) bila diberi sumber panas, dimana suhu tersebut di atas suhu nyala.

C.      Suhu Penyalaan Sendiri (Auto Ignition Temperature)
Suhu dimana suatu zat dapat menyala dengan sendirinya tanpa adanya sumber panas dari luar.  Pengertian ini adalah dimana zat tersebut mendapat suhu yang tertinggi sehingga ia akan menyala dengan sendirinya, contoh :
·      Bensin                                      : 235 °C            Asitilin             : 229 °C
·      Minyak Tanah (Kerosine)        : 228,9 °C         Propane           : 467,8 °C
·      Parafin                                     : 316 °C            Butane             : 405 °C

D.     Daerah Bisa Terbakar (Flammable Range/Combustion Range)
Daerah bisa terbakar adalah batas konsentrasi campuran antara uap bahan bakar (gas consentration) dengan udara yang dapat terbakar/menyala bila dikenal atau diberi sumber api.
Daerah bisa terbakar dibatasi oleh :
·         Batas bisa terbakar atas (Upper Flammable Limit/UFL)
·         Batas bisa terbakar bawah (Lower Flammable Limit/LfL)
 dengan volume udara untuk dapat terbakar.


III.                Teori Api
Unsur pokok terjadinya api dalam teori segitiga api (triangle of fire) menjelaskan bahwa untuk dapat berlangsungnya proses nyala api diperlukan adanya tiga unsur pokok, yaitu :
a.      Bahan yang dapat terbakar (dalam bentuk gas kalau timbul nyala atau dalam bentuk padat jika berbentuk bara).
b.      Oksigen yang cukup dari udara atau dai bahan oksidator.
c.       Panas yang cukup.

Dengan teori itu maka apabila salah satu unsur dari segitiga api tersebut tidak berada pada persyaratan yang cukup, maka api tidak akan terjadi.  Bahan yang dapat terbakar jenisnya dapat berupa bahan padat, cair maupun gas.  Sifat penyalaan dari jenis-jenis bahan tadi terdapat perbedaan, yaitu gas lebih mudah terbakar dibandingkan dengan bahan cair maupun  padat, demikian juga bahan cair lebih mudah terbakar dibandingkan dengan bahan padat, disini menggambarkan adanya tingkat suhu yang berbeda pada setiap jenis bahan, hal ini disebabkan karena karakteristi yaang berbeda.
                        Unsur atau elemen pembentuk segitiga api adalah sebagai berikut :
a.      Oksigen : di dalam udara mengandung oksigen sebesar 21%
b.      Sumber panas

Panas atau sumber api yang dimaksud yang disini adalah energi yang terbentuk dan cukup mampu untuk menimbulkan suatu proses penyalaan/pembakaran dari campuran uap atau gas bahan bakar dengan oksigen (udara) sesuai dengan karakteristik masing-masing media bahan bakarnya.
            Panas atau sumber api yang potensial untuk suatu penyalaan media (bahan bakar) dan mengakibatkan terjadinya kebakaran antara lain :

Api terbuka
Nyala api yang tidak terlindungi seperti : api rokok, api las, kompor, lilin, lampu minyak tanah, bunga api (spark), api dapur.

Panas dari prosesgerakan
Gesekan dari benda-benda yang dapat menimbulkan panas dan juga bunga api, contoh :
-          Sumbu-sumbu/roda gigi yang berputar pada mesin industri atau automotive yang kurang/tidak dilumasi.
-          Kanvas kopling/rem, ban pennggerak slip/macet
-          Menggerinda/mengasah, memukul benda kerja dengan martil baja.
-          Sepatu yang berpaku baja bergesekan dengan lantai dan lain-lain.

Listrik
-          Bunga api listrik yang timbul karena hubungan singkat.
-          Sambungan kabel yang kurang sempurna, sakelar, busi, las listrik dan sebagainya.
-          Alat pemanas seperti, heater, sstrika listrik, solder listrik an sebagainya.  Kabel instalasi alat listrik yang dibebani berlebihan (overhead).
-          Petir/kilat dan listrik statis  akibat dari adanya perbedaan potensial antara muatan positif an negatif.
                                       
Reaksi kimia
Percampuran 2 (dua) elemen yang berbeda dan bersifat reaktif, contoh kalium permagnat dengan gliserin.

Permukaan yang panas
Permukaan yang panas dari benda-benda akibat dari proses pemanasan/pembakaran ataupun tekanan seperti : ketel uap, pipa uap, tungku api, kompresor, lampu listrik, pipa knalpot/cerobong asap dan sebagainya.

c.    Bahan bakar
·         Padat : kayu, kertas, plastik, kain, batu bara, dll
·         Cair : beensin, minyak tanah, solar, solvent, dll
·         Gas : LPG, LNG, Acetyline, dll


IV.               Karakteristik Bahan bakar Padat, Cair dan Gas
V.                 Penyebaran Gas
VI.               Tahap-tahap Pembakaran
VII.             Metode Pemadaman
VIII.           Klasifikasi Kebakaran
IX.                Jenis Media Pemadam



To be continue...

Artikel

mudah-mudahan bermanfa'at

salam

Ketika matahari terbit.....

Ketika bulan dan bintang muncul.............

Ketika bayi terlahir ke dunia.............

Ketika segala sesuatu yang baru muncul.......

Sejatinya mereka memperkenalkan diri.........

Salam dari esjewe untuk semua.............

Entri Populer

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More